Monday, 26 May 2014

Happy Birthday Cangcorang

Hey, Icang Cangcorang

Ini aku tulis satu jam sebelum ulang tahunmu yang ke 24. Semakin menua. Engga kerasa udah usia 24. Semoga masih dipertemukan dengan angka angka yang lebih besar lagi.

Hari ini baru aja kita keluar bareng setelah sekian lamaa engga ketemu. Kamu dimana, aku dimana. Jauh. Kamu tetep, engga banyak berubah. Tetep pinter. Mungkin ada yang berubah. Agak sedikit membesar. Tapi sediiikiiit sekali (kalo bandingannya aku) haha

Icang, teman sepermainan di kelas XII IA 5, selamat Ulang Tahun yang ke 24 ya (udah masuk jam 00.00 tanggal 27 mei 2014 nih). Semoga diusia yang udah gabisa dibilang anak anak lagi ini semakin mendewasa ya pak. Udah dewasa sih sebenernya, cuma kadang ya kaya bocah. Suka iseng :p

Semoga sehat sehat terus ya Cang, sampe nanti. Sampe tua. Nanti kita ketemuan diusia yang jauh dari sekarang dengan kondisi gula darah dibawah 200 dan tekanan darah ga lebih dari 120/80 mmhg. Biar tua tetep sehat dan kece :") Hahhahaha.

Semoga segera dipertemukan dengan jodohnya. Biar segera menikah terus punya anak. Nah ntar anaknya gigi nya diperiksain di aku yaa :p haha. Ehm semoga cepet cepet pindah di Jawa aja. Jangan jauh jauh, banyak malaria disana. Ya? Ya? Ya? Kan kalo di Jawa enak, kalo mau periksa gigi deket. Ke aku aja (tetep promosi). Haha.

Tetep jadi Icang temennya aku yang konyol dan paling enak diajakin ngobrol sekalipun aku nya ga nyambung. Tetep sabar dan kalem (kaya lembu) haha. Ayok traktir aku makan rawon di Bromo sambil nonton Jazz Gunung lagi. *\(^_^)/*

Ohh iyaaaa, satu lagi yaaa harapannya. Semoga semakin banyak orang yang tidak pernah menyesal kenal kamu, kaya apa yang aku rasain. Temen super jutek tapi hati helo kiti doyannya helo panda. Hehe.

HAPPY BIRTHDAY ICANG
HAPPY BIRTHDAY ICANG
HAPPY BIRTHDAY, HAPPY BIRTHDAY
HAPPY BIRTHDAY JELEEEEEK

Peluuuuuk,
- Irma !

Monday, 28 April 2014

Gagal ?! Sudah biasa !

Tanggal 22 April 2014, pukul 08.30 saya menghadapi ujian komprehensif dokter gigi. Ujian yang benar-benar membuat saya menjadi orang paling pesimis di dunia. Karena ujian ini kita diuji oleh 4 dosen penguji. Dan rejeki saya mendapatkan penguji yang sedikit susah untuk ditakhlukan. Hehe. Lagi daaaan lagi saya bertemu Profesor super killer dipadu dengan Dokter SK. Dua dosen penguji lainnya adalah surga dunia, namun perbandingan 50:50 ini yang membuat saya merasa "ga mungkin" sekali. Ditambah saya yang ga pinter-pinter amat. Makin jadilah ujian komprehensif menjadi momok tersendiri buat saya.

Sesuai dengan prediksi saya, saya tidak lulus. Pengumuman keluar tgl 28 April 2014.

Saya yang sudah menyiapkan mental tidak lulus, tetep aja masih sedikit berurai air mata. Namun semua ini sudah keputusan Tuhan, Allah. Saya harus berjuang lagi dengan segala kekuatan yang tersisa (entah sisa seberapa lagi ini) haha. Mungkin saya bakal minjem kekuatannya Sita, dia kan aktif kaya bola bekel jadi kekuatannya banyaaaak. Hehe.

Saya benar benar bersyukur memiliki orang orang yang sangat mendukung saya. Mami, papi, dan sahabat sahabat yang super duper special. Rasa syukur saya berlipat lipat kepada Allah untuk hal ini. Tanpa mereka sepertinya saya sudah menyiapkan racun serangga dan sejenisnya untuk mengakhiri hidup saya. Haha. Atau mungkin Porstex kaya tersangka kejahatan sodomi JIS. Muahahaha. Astagfirullaaaah, jangan sampe deh yaa!

Untuk ujian komprehensif kedua, saya harus bisa berjuang lebih keras lagi! Saya harus lebih ikhlas lagi. Dan yang jelas, harus selalu berkhusnuzon ke Allah. Jangan pernah berprasangka buruk ke Allah, karena Allah itu sesuai dengan prasangka hambanya :) (wejangan dari mbak vira nih).

Ini bukan kegagalan pertama yang saya alami. Banyak hal hal berat yang sudah saya rasakan dan saya lalui. Dan bisa ternyata :") Bismillah .. GAGAL ?! Sudah biasa! Dan gaa akan terjadi lagi ! Amiiin :)

Wednesday, 5 February 2014

Melankolis Kronis

Ahh sore ini saya lagi agak melankolis nih. Sedih aja bawaannya. Ingatan saya menari-nari ke masa lalu dimana saya masih menyandang gelar MABA. Mahasiswa yang masih baru menginjak bangku perkuliahan. Sekitar 5 tahun yang lalu dan kemudian sekarang beranjak menjadi MABA kedua, Mahasiswa Abadi.

Saya sekarang berada diposisi yang saya idam-idamkan sejak saya menginjakkan kaki disini. Saya berstatus mahasiswa yang tinggal menunggu ujian kelulusan. Semuanya sudah saya lalui, hanya satu ujian pamungkas ini yang belum.

Dahulu sewaktu masih baru masuk dan harus menjalani masa OSPEK saya sangat ingin OSPEK ini segera selesai. Di FKG UNEJ, kami menjalani OSPEK itu selama 3 bulan yang dilaksanakan setiap hari Sabtu disetiap minggunya. Jadi ada 12 kali pertemuan kira-kira. Setelah OSPEK selesai rasanya lega luar biasa, namun ada sesuatu yang sangat ingin saya ulang. Kebersamaan saya dan seluruh teman-teman. Apapun kami kerjakan bersama. Sekarang? Jangan ditanya. Kabar teman seangkatan saja belum tentu mengerti.

Dahulu sewaktu masih menjalani masa tutorial (diskusi), preklinik, dan perkuliahan saya sangat ingin sekali segera selesai. Saya iri melihat kakak tingkat yang sudah memasuki jenjang profesi dan menggunakan jas putih sambil menggandeng pasiennya. Tampak keren dan berkelas dengan sebutan DOKTER GIGI MUDA. Akhirnya dengan semangat 45 saya mnyelesaikan masa perkuliahan saya selama 3.5 tahun tepat. Wisuda dengan nilai seadanya tapi tidak mengurangi kebahagiaan saya ketika toga nempel dibadan saya. Tapi setelahnya, saya merindukan ketika saya kuliah, duduk dibangku belakang sambil mendengarkan lagu dari henpon saya. Bercanda dengan teman sebelah hingga dikeluarkan dari ruang kuliah. Nongkrong-nongkrong sepulang kuliah hingga adzan magrib sebagai patokan untuk berpisah. Sekarang? Punya waktu untuk diri sendiri bersantai saja susah, apalagi mencari waktu bercanda bersama teman-teman?! SUSAH! Pada sibuk dengan segala aktivitas yg tak terbatas.

Dahulu sewaktu masih baru menginjakkan kaki di bangunan panas RSGM FKG UNEJ sebagai dokter gigi muda saya berambisi semua klinik saya lalui dengan cepat. Saya ingin segera keluar dari bangunan yang merenggut masa muda saya ini. Saya sudah jenuh dengan semuaanyaaa. Setiap hari saya lalui dengan mencari pasien kesana kemari. Saya sibuk. Namun saya masih menyempatkan untuk berjalan-jalan dengan teman-teman dekat saya yang jumlahnya cukup banyak. Berkeliaran semaunya, sejauh mungkin. Dan alhamdulillah setelah 2 tahun menjalani profesi, saya sudah merampungkan semua stase walau banyak stase yang saya ulang :p Sekarang? Saya merindukan segala kesibukan saya di klinik. Rempongnya mencari pasien hingga menjelajahi semua jalan-jalan kecil. Saya merindukan hal-hal yang terlewati kemarin.

Sebenarnya ada yang jauh lebih saya rindukan sih. Teman-teman saya. Teman-teman yang mulai jarang saya temui lagi. Teman-teman yang membuat hari-hari surem saya di FKG makin surem tapi menyenangkan. Haha. Kangen nongkrong-nongkrong dengan obrolan super gajelas hingga larut malam. Kangen deh pokonya!

Memang kangen adalah akar dari segala melankolis kronis setiap umat dimuka bumi ini.

Sunday, 26 January 2014

Bosamba Rafting, Bondowoso

Hey hey hey!

Hari kamis 22 Januari 2014 kemarin, saya dan 5 teman perempuan setengah laki-laki saya bermain ke Bondowoso. Kami mau arung jeram di Bosamba. Untuk menghilangkan sedikit stress mikirin urusan kampus yang bikin mampus. Ini acara bepergian yang menurut saya paling ga ruwet. Sekali deal, ketemuan, langsung berangkat deh tanpa babibu. Ga katek ruwet blas :D

Jam 12.30 kami berangkat dari Jember menuju ke Bondowoso. Kesiangan sih intinya. Jadinya nyampe di Bosamba itu jam setengah 2 siang. Pake acara nyasar itu yang bikin lama. Bukan Irma namanya kalo ga nyasar saat bepergian. Mana saya nyasarnya jauuuh lagi. Payah! Alhamdulillah sih saya dan sinta masih bisa menemukan jalan kebenaran menuju Bosamba. Temen-temen yang lainnya udah nungguin saya  di pinggiran jalan. Pada njamur saking lamanya nungguin saya.

Pukul 13.30 kami tiba di Bosamba. Yeah! Sungguh tempat yang sangaaaaaat STANDAR. Dengan fasilitas yang sangaaaaaat BIASA. Saya jadi terkesan membandingkan karena sebelumnya saya sudah pernah arung jeram di Songa. Insting pembanding jadi muncul deh. ampun ampun.

Datang di Bosamba kami disambut pengelola utama Bosamba yang sudah mengobrol dengan saya via bbm semalam yang namanya ... saya tidak tau. Hal pertama yang kami lakukan adalah NEGOSIASI HARGA. Secara kami adalah anak kos yang SELALU pas-pasan. Negosiasi kami bisa dibilang setengah berhasil karena kami mendapat POTONGAN HARGA! Dari harga total yang awalnya Rp. 1.050.000 untuk 6 orang, jadi Rp. 1.000.000. lumayan. 50rb bisa dipake untuk makan sebulan. Hahaha.

Kami dipersilahkan mengenakan perlengkapan tempur yaitu helm, jaket pelampung, dan dayung. Kemudian kami menerima pengarahan dari ... saya tidak tau lagi namanya. Sebut saja Supri. Mas Supri mengarahkan mengenai aba-aba yang akan kami terima saat diatas perahu karet. Setelah ituuuuu .. kami berjalan kaki menuju sungai tempat kamu pengarungan. Sungai SAMPEAN BARU.

Pengarahan oleh Mas Supri
kami siap cemplung-cemplungan di kali!
Track yang akan kami lalui ini panjangnya 14km. Ini akan menjadi 14km yang sangat menegangkan karena debit air sedang besar-besarnya karena seharian kemarin hari hujan dan air masih tinggi. Dengan dipandu 1 guide kami mulai mengarungi sungai Sampean. Bismillah.

Ternyata arus begitu besar dan mas guide kami yang namanya .. saya tidak tau .. sebut saja Supri 2 merasa kuwalahan. Akhirnya mas Supri 2 meminta bantuan beberapa guide yang membuat kami ber6 terbagi menjadi 2 team. Jadi di dalam 1 perahu karet terdapat 4 guide 3 pengunjung. Malah banyakan guide nya coba?! Ada mas Supri 2, 3, 4, dan 5 diperahu saya. sungguh ini mengerikan. Pengarungan dilanjutkan!

entahlah air terjun apa ini namanya
Ada kalanya sungai Sampean ini arusnya begitu tenang dan membuat kami melongo memandang indahnya alam. Arus yang tenang ini berbanding terbalik dengan kepribadian mas Supri ini. dengan sangat jahil mereka menceburkan kami ke sungai. Bisa dibayangkan saya se-histeris apa?! SAYA GA BISA BERENANG! Teriakan saya menggema dimana-mana. padahal saya tidak mungkin tenggelam karena ada jaket pelampung. Saya memang sering berlebihan. Haha. Ada hal yang saya anggap susah di dunia ini selain berenang, yaitu menaikkan tubuh saya yang berukuran besar dan dalam kondisi basah kuyup ke perahu karet. Astagfirullah, susah!

semua diceburin semacam ini sama mas Supri.

Setelah setengah perjalanan kami ditempuh, kami menepi dan dijamu dengan gorengan hangat dan teh jahe. Ahh saya ga suka jahe. Ya sudah saya hanya melahap gorengan dan minum air putih saja. Air putih lebih menyehatkan ketimbang teh jahe dan Krating Daeng. Kemudian setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan menuju titik finish. Dan disinilah rasanya arung jeram. Jeram-jeram penutupannya begitu sadis sodara! Teriakan 6 perempuan ini ga ada putusnya. Serem euy!! Tapi kami sangat PUAS. :)

nyantai dulu di kilo meter 7

Akhirnya kami tiba di titik finish setelah pengarungan selama 2 jam dan kami sudah ditunggu oleh mobil pick up di pinggir jalan. Sayangnya pinggir jalannya jauh dari tempat finish kami. kami harus berjalanan kaki melewati jalan menanjak yang lumayan membuat saya susah bernafas! Sumpah, tanjakannya kagaak nahaan. Haha. Saya yang Cuma bawa badan aja rasanya sudah remuk redam, apalagi mas Supri 2, 3, 4 dkk yang harus nanjak sambil menggendong perahu karet yang tadi kami tumpangi?! Rasakan! Itu karma karena sudah menceburkan saya ke sungai. Haha.

Perjalanan menaiki pick up menuju tempat kedatangan awal kami tadi ternyata cukup JAUH. Dengan jalanan yang cukup MENGERIKAN. Sambil jejeritan ditengah perkampungan warga kami berusaha memegang apapun yang bisa memfixasi tubuh kami. haha. Sesampainya di tempat kedatangan, kami buru-buru deh membersihkan badan. Karena kondisi kami basah kuyup. Dan sayangnya kamar mandi hanya ada 2 dan itu membuat kami antri-antrian sambil menahan pipis. Eergghhh.

Lapar mengisi relung jiwa kami, dan nasi jagung beserta lauknya sudah siap kami santap. Wooohoooo! Kalap sekali rasanya menyantap makanan yang sudah dipersiapkan. Antara makanan ini yang rasanya enak atau kami yang kelaparan. Semuanya samar. Haha. Pukul 17.30 kami meninggalkan Bosamba menuju Jember. Kondisi sangat tidak mendukung karena kami dikepung hujan. Tidak cukup berbasah-basahan karena arung jeram, kami harus berbasah-basahan karena air hujan. Haha


Monday, 20 January 2014

Jember

Jember.
Kota ini yang mengungkung saya selama lebih dari 5 tahun untuk menjalani pendidikan dokter gigi saya. Kota ini yang banyak membuat saya kesal karena menjauhkan saya dari rumah. Kota ini yang membuat saya menghilangkan hobi nonton saya karena tidak ada bioskop yang menayangkan film secara tepat waktu. Kota ini membuat saya semakin gemuk karena harga makanannya bisa dikatakan murah. Kota ini membuat saya tidak bisa mengikuti obrolan teman-teman lama saya saat kami reuni kecil karena memang di Jember tidak ada apa-apa. Saya tidak suka Jember.

Jember.
Kota ini yang sering membuat saya berkeringat banyak-banyak di wajah karena suhunya yang memang agak 'hangat' (memperhalus kata PANAS). Kota ini membuat saya menjadi anak kos karena memang rumah saya agak jauh dari Jember. Kota ini yang membuat saya terkadang cengok saat ngobrol dengan beberapa orang karena terkadang mereka mempergunakan bahasa Madura yang tidak saya mengerti sedikitpun. Kota ini yang membuat saya biduran saat pulang ke Malang, karena terbiasa dengan suhu hangat disini. Ahhh, saya memang tidak suka Jember.

Jember.
Kota ini sering membuat saya jenuh karena saya tidak menemukan tempat kongkow yang saya suka. Kota ini membuat saya kesusahan membeli baju karena jarang sekali ada tempat yang menjual baju big size. Kota ini sering menyasarkan saya karena terlalu banyak jalan 1 arahnya. Kota ini memang mengesalkan. Lagi dan lagi saya serukan bahwa saya tidak suka Jember.

Namun entah kenapa, setelah saya menjalani bagian Ilmu Kesehatan Klinik (IKK) selama 1,5 bulan di kota yang berbeda, yaitu Banyuwangi, Jember semacam mengguna-guna saya untuk jatuh cinta kepadanya. Keinginan untuk ke Jember selalu menghantui saya. Ahh Tuhan, saya terkena karma. Karma membuat saya menyadari betapa Jember itu tidak semenyedihkan yang saya angankan. Jember itu membuat saya kangen. Jember itu menyamankan..

Jember.
Kota ini menghadiahkan gelar dokter gigi di depan nama saya. Kota ini menyulap saya sedikit lebih mandiri karena menjauhkan saya dari rumah. Kota ini membuat saya akrab dengan banyak pemilik persewaan CD karena saya rajin menyewa film-film new release yang tidak bisa saya saksikan di bioskop. Kota ini menghilangkan sifat cerewet saya ketika bertemu teman-teman karena memang saya tidak memiliki bahan cerita :) Jember ini ajaib!

Jember.
Sudahlah saya mengakui bahwa selama ini penilaian saya. Memang jember membuat saya sering nyasar dan menggemuk secara signifikan, namun kota ini yang mempertemukan saya dengan beberapa orang pilihan yang banyak mengisi kehidupan saya. SINTA, super soulmate saya. BOSGENG, MBAK ADEL, BUNDA YULIA, sahabat dan guru kehidupan saya. Mereka mendewasakan saya dengan cara  mereka. CHANDRA sahabat lelaki nomer satu yang super duper kocak dan suka selenge'an. VEBRI dan TOPIK partner dikala galau, butuh teman curhat?! Pasti mereka siap. :)) Mereka yang membuat Jember seperti surga mini. Tempat yang meragukan untuk ditinggalkan.

Tidak semua yang kita anggap baik itu baik untuk kita. Tidak semua yang kita anggap buruk itu buruk untuk kita. Terkadang apa yang kita anggap buruk itu malah yang terbaik untuk kita. Inilah yang saya pelajari dari kota ini :) Saya menganggap bahwa Jember ini buruk untuk saya. Nyatanya banyak hal yang saya dapat disini. Ini misteri. Tuhan selalu memiliki alasan untuk setiap keputusannya, termasuk memiliki alasan menempatkan saya di Jember. Saya bukan kebetulan di tempatkan Tuhan disini. Karena banyak ada sebab akibat saya ditempatkan disini. Jember tidak semengerikan bayangan saya. Jember membuat saya jatuh cinta yang sesungguhnya.


With ♥,
Irma Yunita Wijayanti

Thursday, 31 October 2013

Foto Keluarga

Hey !

AKHIRNYA SAYA PUNYA FOTO KELUARGAAA.. AUOOOO.. hahaha

Mami dan Papi menikah pada bulan Oktober 1980. Jika dihitung-hitung Mami dan Papi sudah berumah tangga hampir 33 tahun. Sudah berkeluarga selama ini, tak ada satupun foto keluarga yang menggantung di tembok rumah kami. saya sempet ngambek ngajakin foto tapi ya tetep aja sih engga jadi foto. Sampe akhirnya Mami memutuskan untuk foto keluarga dengan inisiatif sendiri. Alhamdulillah! Keburu tua saya nya kalo ga buru-buru foto keluarga. Jujur nih yaa, saya excited banget deh pulang ke rumah gegara dijanjiin buat foto keluarga. Perjalanan Jember Malang serasa sekedipan mata (kalo ini saya bohong).

Sesampainya di rumah, esok harinya Mami langsung pesen ke salah satu studio foto tertua di Malang. Studio ini udah ada sebelum saya lahir. Bahkan sudah ada sejak saya masih jadi entut. Haha. Persiapan dimulai. Mami, Saya dan Istri mas saya kembaran menggunakan baju berwarna ungu. Mas sama Papi sama-sama pake hem kotak-kotak. Dan si mungil Levi pake batik. Keluarga saya memang Bhineka Tunggal Ika abis.

Emang dasarannya saya engga bisa dandan, ya sudahlah saya foto apa adanya. Lipstik pun tidak. Hanya sedikit bedak saja (yang hilang 30menit kemudian karena keringat mengucur deras). Yang penting FOTO!! (jiwa model saya bergejolak kencang). Kami disambut oleh sang fotografer perempuan diarahkan memilih background foto. Setelah pas semua, keluarga kami mulai sesi foto.

33 tahun menjadi orang tua super :*
Ini nih yang paling khas dari Papi, ga pernah senyum kalo foto. Selalu cool dan tegang. Biasa deh, tentara. Mana ada foto tentara senyum. Itu sih kilahnya Papi. Haha. Tapi mau seperti apapun saya tetep sayang kok Pi. Kepribadian Papi tidak semengerikan wajah Papi yang tanpa senyum pas di foto. Papi orangnya ramaaah banget dan atraktif kalo diajakin ngobrol. Kadang malah keaktifan -___-“

Doakan saya segera memiliki foto seperti keluarga abang saya ya! :p

Yang paling susah dari sesi foto ini adalah mengumpulkan mood si tengil Levi. Sumpah susah banget ponakan satu ini buat disuruh senyum. Karena ga biasa di foto orang lain, jadilah dia susah banget buat senyum. Dan posenya pose ulet uget-uget kendut-kendut. Hahaha. Yang perlu digarisbawahi adalah ponakan saya adalah COWOK bukan CEWEK. Hahaha. Banyak yang salah karena rambutnya yang gondrong itu.

ini keluarga inti kami. papi mami mas dan saya :)

ini formasi keluarga baru kami! bertambah mbak viva dan si mungil levi
Terima kasih Tuhan sudah mengirim saya ditengah-tengah keluarga yang sangat hangat ini. Jaga terus keluarga saya ya Tuhan! Amin.


Sunday, 7 July 2013

Jazz Gunung 2013

Hollaaa !

Alhamdulillah saya bisa dateng ke Jazz Gunung lagi untuk yang kedua kalinya. Bromo tetap dingin, tidak berkurang sedikitpun. Bromo tetap cantik, sama cantiknya seperti sebelumnya. Dan Bromo tetap menyenangkan untuk dikunjungi.

Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini saya datang tidak hanya berdua saja namun datang ber .. EMPAT! Yeah keren kan. Peningkatan yang sangat signifikan. Saya berangkat sama Bunda Yullia, Meidi daaaaaan teman tersayang yang membuat leher saya varises tahun lalu, Chandra. menepati janjinya tuh si Chandra. “Ntar kalo aku ada mobil kita bisa nonton jazz gunung naik mobilnya aku”. Dan memang ditepati.

Blue. sebenernya saya sih gatau nama mobil Chandra ini sapa.
daripada ga ada namanya yawes toh saya kasih nama :p
Tanggal 22 Juni 2013 kami berempat berangkat menuju Bromo pukul brapa saya lupa pokonya mah sarapan dulu di Bu Darum ditraktir papa Meidi, drg. Rudi. Dengan mengendarai Blue, kami berangkat menuju ke Bromo. Woohoo!

Sepanjang jalan kenangan berangkat saya semacam mabok janda karena saya engga bisa duduk miring, nah mobilnya Chandra kan bangku belakangnya miring kaya yang punya. Untung ada antangin dan Bunda Yulia yang setia memijiti punggung. Sambil nyanyi-nyanyi, cerita-cerita, becanda ga jelas, sampailah kami di kaki gunung Bromo.

Sepanjang perjalanan banyak yang menjual cabe gendut-gendut lucu seperti terong berwarna merah dan ijo. Sebagai calon petani cabe yang sukses Chandra langsung deh gatel pengen beli. Bunda tampaknya juga tertarik. Sebagai calon koki di sebuah hotel bintang tujuh yang terpercaya, Bunda dengan asik memilih cabe. Saya? sebagai calon model profesional, saya pakailah rentengan cabe sebagai kalung. Setelah membeli dua renteng cabe kami melanjutkan perjalanan.

cabe nya montok dan gundek seperti .. saya ..

Sama seperti tahun kemarin, hal pertama yang kami lakukan adalah PARKIR MOBIL. Kemudian Chandra sebagai satu-satunya lelaki harus rela antri untuk TUKAR TIKET dong. Setelah tiket sudah nempel di pergelangan tangan kami MAKAN! Sama seperti tahun lalu saya makan di warung yang sama dengan menu yang sama, rawon. Dan saya ditantang Chandra untuk pesen ES TEH di tempat sedingin Bromo. Apa ga mabok ini bocah?! Yaudah saya mah pesen-pesen aja. tapi ternyata es nya kagak ada. Yaiyalah, sapa juga mau pesen es di tempat sedingin ini. ya cuma orang sengklek.

kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh mas-mas yang manyun-manyun gajelas itu?! haha

makan rawon ! NYAM :)
Dengan perut kenyang dan hati senang, kami menuju venue JG. Antri euy. Sambil antri ya dengan sigap kami foto-foto. Saya sih seneng-seneng aja orang di fotoin. Setelah masuk venue kami foto di tempat wajib kalo dateng ke JG. Itu tuh, yang ada backdrop nya JG. Dari 3 foto yang difotoin orang, 2 foto muka saya cengok tingkat dewa. Astaga astaga astaga.
ketemu nieken loh di antrian masuk venue
ehm, saya cantik. udah itu aja.
ini bukti otentik kami nonton Jazz Gunung 2013
Gerimis menemani pembukaan JG yang dibuka oleh MC yang tidak pernah berganti, mas butet, alit, dan gandhi. Jam 16.00 acara baru dibuka. Telat boo, 2 jam. kan di rundown acara dimulai pukul 14.00. walo telat tapi tidak menyusutkan semangat dimata kami dong. Let’s Jazz! Ehh kami menyempatkan diri sebentar untuk membeli merchandise nya JG 2013. Kami membeli sweater JG dengan warna yang berbeda. Bagus!

model dan kamera nya sama. sama-sama jelek.
Penampil pertama yaitu band Jazz Etnik dari Malang yaitu Tahez Komes. Ini beneran enak banget deh musiknya. Vokalisnya nyanyi lagu Jaranan dengan sentuhan Jazz yang kece badai. Ini yang pegang bass adek kelas saya loh! Haha. Tapi saya lupa nah nama nya -___-“ Saya mau pamer sedikit nah ya, kalo kami duduknya di bangku VIP B. itu posisinya cukup dekat dengan pengisi acaranya. Hahaha. Astagfirullah, orang riya temennya setan. Ya Allah ampun yaa. Saya emang biasa temenan sama setn kaya Chandra, tapi saya gamau dalam golongan orang yang riya’ Ya Allah...
kami duduk disini, VIP B
Tahez Komes dari Malang
Penampil berikutnya adalah kelompok musik etnik dari madura yaitu Keramat Madura. Yang diikuti penampil ketiga band dari Bali yaitu Kul-kul Band. Kalo mendengarkan musik dari Kul-kul ini berasa lagi numpang baca buku di Gramedia. Musiknya tuh sejenis musik-musik yang sering dimainin di Gramedia. Instrumental gitu. saxophone nyaaaaa .. LEGIT.. udah kaya lapis deh legitnya.

Keramat Madura
Kul-kul Band
Penampil keempat diisi oleh Ring of Fire Projectnya Djaduk Ferianto feat. Jen Hsyu dan Idang Rasyidi. Dan sesungguh saya hanya bisa terbengong-bengong melihat kemampuan orang-orang didepan saya ini. ohh Tuhan, amazing bangeeeet. Tanpa notasi tertulis meraka nge-Jam tak terkendali. Ini namanya musisi! Ehh ada kejutan, pak menteri perdagangan Gita Wirjawan yang dulu pernah duet sama Tompi hadir dibangku penonton. Sang MC langsung gatel untuk mengundang Gita Wirjawan ke panggung juga nge-jam bareng. Jarinya semacam sudah sahabatan sama piano. Enak aja gitu lari-lari diatas piano. Keren!

narsis ditengah pertunjukan :p
Ring of Fire Project feat Jen Hsyu dan Idang Rasjidi
Idang Rasjidi
Jen Hsyu
GITA WIRJAWAN *love*
Setelah dimanja sama penampilan musisi-musisi super senior ini, berikutnya kami diajak bernyanyi bersama oleh Rieka Roslan. Sebagai generasi 90-an yang masih mengenal The Groove kami pun larut dalam lagu-lagu yang dinyanyikan Rieka Roslan. Berikutnya, sebagai penampil pamungkas muncullah Barry Likumahuwa Project feat. Beni Likumahuwa. Usia semakin membuktikan kematangan dalam bermusik. Om Beni kece sekali sekalipun giginya sudah habis. Keren deh. Pukul 23.30 JG selesai. Dan kami bersama dengan ribuan penonton lainnya meninggalkan venue JG.

Rieka Roslan yang membuat kita bernostalgia dengan tembang hits nya "Dahulu"
Barry Likumahuwa Project feat. Beni Likumahuwa
Barry Likumahuwa Project
Disinilah petualangan kami dimulai. Sesampainya di parkiran dan masuk ke dalam Blue, ternyata Blue ngambek gamau nyala. Blue semacam kedinginan. Tapi saya merasa ada yang aneh karena Blue ini mau nyala tapi kalo dikendarai menuju ke arah kanan dia mati. Kalo muter-muter diparkiran dia mau. Chandra ngebenerin Blue yang lagi ngambek, saya bagian nyenterin. Tapi tanpa hasil. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. dan parkiran sudah kosong hanya ada kami dan beberapa panitia yang merapikan panggung.

Akhirnya Chandra minta tolong Mas-Mas panitia buat ngedorongin mobil. Saya juga ikutan dorong boo, latian otot biseps biar kuat. Posisi Chandra ada diluar mobil sambil ikut ndorong dan tetap sambil starter mobil. Dan saya dan 2 mas-mas yang begitu baiknya mendorong dengan semangat. Nah taunya kami ndorong mobil ke jalan turunan. Jadilah Blue meluncur dengan lajunya dengan Bunda dan Meidi di dalamnya. Chandra yang berada di luar mobil mau ngebuka pintu kesusahan, karena ternyata pintu terkunci. Sambil berlari akhirnya semacam si lumba-lumba, makan dulu, Chandra lompat melalui jendela dan langsung menarik hand rem. Dan Blue menggesot dengan indahnya berjarak 2m dari bangunan tua yang sudah lama tidak dipake. Saya ngejongkok di posisi saya ngedorong terakhir tadi ban. Keadaan di dalam mobil? Histeris! Haha. Bayangin kalo rem nya gagal ditari sama si lumba-lumba, bisa mati gaya Blue nubruk bangunan tua.

Blue tetap ngambek. Akhirnya saya minta ditemani Chandra mencari jalan ke arah kiri parkiran karena setiap dibelokkan ke kanan Blue langsung mati. Kami berdua berjalan memecah gelapnya malam itu dengan ketar-ketir. Kami melewati bangunan super lama yang sudah lama tidak difungsikan. Ini mengerikan. Seperti film-film horor. Seperti syuting film Friday the 13th. Dan syukurlah kami menemukan jalan. Saya dan Chandra pun kembali ke parkiran dan kita lewat kiri parkiran. Mungkin kami satu-satunya pengunjung yang melewati jalan ini. haha.

Dan saya mendapat teman baru. Sissy. Dia menemani perjalanan pulang kami. sahabat baru kami yang menyelamatkan kami dengan menuntun saya dengan cahaya birunya berjalan menuju ke kiri parkiran. Dan akhirnya kami menemukan jalan pulang. Dengan lega, kami mengendarai Blue dengan hati suka cita dan mata ngantuk.

Kami memutuskan untuk bermalam di jalan. Di dalam Blue. Menidurkan badan yang tidak santai daritadi. Bunda dan Meidi tertidur dengan nyenyak. Chandra tertidur lebih nyenyak. Dan saya? tidak bisa tidur. Hehe. Jam 5 pagi, seingat saya saat itu, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Jember.

Saya, Bunda dan Chandra berjanji akan kembali kesana tahun depan, untuk Jazz Gunung 2014. Saya dengan senang hati mengiyakan. Tapi saya mau hanya bertiga. Hehe. *ngeselin ya* Semoga bener-bener bisa ada disana tahun depan. Amin. TAPI PERSONEL TETAP LOOO. Boleh personelnya nambah tapi khusus kesayangan-kesayangan saya saja. :p

Salam dari JAZZ GUNUNG 2013 :)

Bye!