Sunday, 26 January 2014

Bosamba Rafting, Bondowoso

Hey hey hey!

Hari kamis 22 Januari 2014 kemarin, saya dan 5 teman perempuan setengah laki-laki saya bermain ke Bondowoso. Kami mau arung jeram di Bosamba. Untuk menghilangkan sedikit stress mikirin urusan kampus yang bikin mampus. Ini acara bepergian yang menurut saya paling ga ruwet. Sekali deal, ketemuan, langsung berangkat deh tanpa babibu. Ga katek ruwet blas :D

Jam 12.30 kami berangkat dari Jember menuju ke Bondowoso. Kesiangan sih intinya. Jadinya nyampe di Bosamba itu jam setengah 2 siang. Pake acara nyasar itu yang bikin lama. Bukan Irma namanya kalo ga nyasar saat bepergian. Mana saya nyasarnya jauuuh lagi. Payah! Alhamdulillah sih saya dan sinta masih bisa menemukan jalan kebenaran menuju Bosamba. Temen-temen yang lainnya udah nungguin saya  di pinggiran jalan. Pada njamur saking lamanya nungguin saya.

Pukul 13.30 kami tiba di Bosamba. Yeah! Sungguh tempat yang sangaaaaaat STANDAR. Dengan fasilitas yang sangaaaaaat BIASA. Saya jadi terkesan membandingkan karena sebelumnya saya sudah pernah arung jeram di Songa. Insting pembanding jadi muncul deh. ampun ampun.

Datang di Bosamba kami disambut pengelola utama Bosamba yang sudah mengobrol dengan saya via bbm semalam yang namanya ... saya tidak tau. Hal pertama yang kami lakukan adalah NEGOSIASI HARGA. Secara kami adalah anak kos yang SELALU pas-pasan. Negosiasi kami bisa dibilang setengah berhasil karena kami mendapat POTONGAN HARGA! Dari harga total yang awalnya Rp. 1.050.000 untuk 6 orang, jadi Rp. 1.000.000. lumayan. 50rb bisa dipake untuk makan sebulan. Hahaha.

Kami dipersilahkan mengenakan perlengkapan tempur yaitu helm, jaket pelampung, dan dayung. Kemudian kami menerima pengarahan dari ... saya tidak tau lagi namanya. Sebut saja Supri. Mas Supri mengarahkan mengenai aba-aba yang akan kami terima saat diatas perahu karet. Setelah ituuuuu .. kami berjalan kaki menuju sungai tempat kamu pengarungan. Sungai SAMPEAN BARU.

Pengarahan oleh Mas Supri
kami siap cemplung-cemplungan di kali!
Track yang akan kami lalui ini panjangnya 14km. Ini akan menjadi 14km yang sangat menegangkan karena debit air sedang besar-besarnya karena seharian kemarin hari hujan dan air masih tinggi. Dengan dipandu 1 guide kami mulai mengarungi sungai Sampean. Bismillah.

Ternyata arus begitu besar dan mas guide kami yang namanya .. saya tidak tau .. sebut saja Supri 2 merasa kuwalahan. Akhirnya mas Supri 2 meminta bantuan beberapa guide yang membuat kami ber6 terbagi menjadi 2 team. Jadi di dalam 1 perahu karet terdapat 4 guide 3 pengunjung. Malah banyakan guide nya coba?! Ada mas Supri 2, 3, 4, dan 5 diperahu saya. sungguh ini mengerikan. Pengarungan dilanjutkan!

entahlah air terjun apa ini namanya
Ada kalanya sungai Sampean ini arusnya begitu tenang dan membuat kami melongo memandang indahnya alam. Arus yang tenang ini berbanding terbalik dengan kepribadian mas Supri ini. dengan sangat jahil mereka menceburkan kami ke sungai. Bisa dibayangkan saya se-histeris apa?! SAYA GA BISA BERENANG! Teriakan saya menggema dimana-mana. padahal saya tidak mungkin tenggelam karena ada jaket pelampung. Saya memang sering berlebihan. Haha. Ada hal yang saya anggap susah di dunia ini selain berenang, yaitu menaikkan tubuh saya yang berukuran besar dan dalam kondisi basah kuyup ke perahu karet. Astagfirullah, susah!

semua diceburin semacam ini sama mas Supri.

Setelah setengah perjalanan kami ditempuh, kami menepi dan dijamu dengan gorengan hangat dan teh jahe. Ahh saya ga suka jahe. Ya sudah saya hanya melahap gorengan dan minum air putih saja. Air putih lebih menyehatkan ketimbang teh jahe dan Krating Daeng. Kemudian setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan menuju titik finish. Dan disinilah rasanya arung jeram. Jeram-jeram penutupannya begitu sadis sodara! Teriakan 6 perempuan ini ga ada putusnya. Serem euy!! Tapi kami sangat PUAS. :)

nyantai dulu di kilo meter 7

Akhirnya kami tiba di titik finish setelah pengarungan selama 2 jam dan kami sudah ditunggu oleh mobil pick up di pinggir jalan. Sayangnya pinggir jalannya jauh dari tempat finish kami. kami harus berjalanan kaki melewati jalan menanjak yang lumayan membuat saya susah bernafas! Sumpah, tanjakannya kagaak nahaan. Haha. Saya yang Cuma bawa badan aja rasanya sudah remuk redam, apalagi mas Supri 2, 3, 4 dkk yang harus nanjak sambil menggendong perahu karet yang tadi kami tumpangi?! Rasakan! Itu karma karena sudah menceburkan saya ke sungai. Haha.

Perjalanan menaiki pick up menuju tempat kedatangan awal kami tadi ternyata cukup JAUH. Dengan jalanan yang cukup MENGERIKAN. Sambil jejeritan ditengah perkampungan warga kami berusaha memegang apapun yang bisa memfixasi tubuh kami. haha. Sesampainya di tempat kedatangan, kami buru-buru deh membersihkan badan. Karena kondisi kami basah kuyup. Dan sayangnya kamar mandi hanya ada 2 dan itu membuat kami antri-antrian sambil menahan pipis. Eergghhh.

Lapar mengisi relung jiwa kami, dan nasi jagung beserta lauknya sudah siap kami santap. Wooohoooo! Kalap sekali rasanya menyantap makanan yang sudah dipersiapkan. Antara makanan ini yang rasanya enak atau kami yang kelaparan. Semuanya samar. Haha. Pukul 17.30 kami meninggalkan Bosamba menuju Jember. Kondisi sangat tidak mendukung karena kami dikepung hujan. Tidak cukup berbasah-basahan karena arung jeram, kami harus berbasah-basahan karena air hujan. Haha


Monday, 20 January 2014

Jember

Jember.
Kota ini yang mengungkung saya selama lebih dari 5 tahun untuk menjalani pendidikan dokter gigi saya. Kota ini yang banyak membuat saya kesal karena menjauhkan saya dari rumah. Kota ini yang membuat saya menghilangkan hobi nonton saya karena tidak ada bioskop yang menayangkan film secara tepat waktu. Kota ini membuat saya semakin gemuk karena harga makanannya bisa dikatakan murah. Kota ini membuat saya tidak bisa mengikuti obrolan teman-teman lama saya saat kami reuni kecil karena memang di Jember tidak ada apa-apa. Saya tidak suka Jember.

Jember.
Kota ini yang sering membuat saya berkeringat banyak-banyak di wajah karena suhunya yang memang agak 'hangat' (memperhalus kata PANAS). Kota ini membuat saya menjadi anak kos karena memang rumah saya agak jauh dari Jember. Kota ini yang membuat saya terkadang cengok saat ngobrol dengan beberapa orang karena terkadang mereka mempergunakan bahasa Madura yang tidak saya mengerti sedikitpun. Kota ini yang membuat saya biduran saat pulang ke Malang, karena terbiasa dengan suhu hangat disini. Ahhh, saya memang tidak suka Jember.

Jember.
Kota ini sering membuat saya jenuh karena saya tidak menemukan tempat kongkow yang saya suka. Kota ini membuat saya kesusahan membeli baju karena jarang sekali ada tempat yang menjual baju big size. Kota ini sering menyasarkan saya karena terlalu banyak jalan 1 arahnya. Kota ini memang mengesalkan. Lagi dan lagi saya serukan bahwa saya tidak suka Jember.

Namun entah kenapa, setelah saya menjalani bagian Ilmu Kesehatan Klinik (IKK) selama 1,5 bulan di kota yang berbeda, yaitu Banyuwangi, Jember semacam mengguna-guna saya untuk jatuh cinta kepadanya. Keinginan untuk ke Jember selalu menghantui saya. Ahh Tuhan, saya terkena karma. Karma membuat saya menyadari betapa Jember itu tidak semenyedihkan yang saya angankan. Jember itu membuat saya kangen. Jember itu menyamankan..

Jember.
Kota ini menghadiahkan gelar dokter gigi di depan nama saya. Kota ini menyulap saya sedikit lebih mandiri karena menjauhkan saya dari rumah. Kota ini membuat saya akrab dengan banyak pemilik persewaan CD karena saya rajin menyewa film-film new release yang tidak bisa saya saksikan di bioskop. Kota ini menghilangkan sifat cerewet saya ketika bertemu teman-teman karena memang saya tidak memiliki bahan cerita :) Jember ini ajaib!

Jember.
Sudahlah saya mengakui bahwa selama ini penilaian saya. Memang jember membuat saya sering nyasar dan menggemuk secara signifikan, namun kota ini yang mempertemukan saya dengan beberapa orang pilihan yang banyak mengisi kehidupan saya. SINTA, super soulmate saya. BOSGENG, MBAK ADEL, BUNDA YULIA, sahabat dan guru kehidupan saya. Mereka mendewasakan saya dengan cara  mereka. CHANDRA sahabat lelaki nomer satu yang super duper kocak dan suka selenge'an. VEBRI dan TOPIK partner dikala galau, butuh teman curhat?! Pasti mereka siap. :)) Mereka yang membuat Jember seperti surga mini. Tempat yang meragukan untuk ditinggalkan.

Tidak semua yang kita anggap baik itu baik untuk kita. Tidak semua yang kita anggap buruk itu buruk untuk kita. Terkadang apa yang kita anggap buruk itu malah yang terbaik untuk kita. Inilah yang saya pelajari dari kota ini :) Saya menganggap bahwa Jember ini buruk untuk saya. Nyatanya banyak hal yang saya dapat disini. Ini misteri. Tuhan selalu memiliki alasan untuk setiap keputusannya, termasuk memiliki alasan menempatkan saya di Jember. Saya bukan kebetulan di tempatkan Tuhan disini. Karena banyak ada sebab akibat saya ditempatkan disini. Jember tidak semengerikan bayangan saya. Jember membuat saya jatuh cinta yang sesungguhnya.


With ♥,
Irma Yunita Wijayanti