Jember.
Kota ini yang mengungkung saya selama lebih dari 5 tahun untuk menjalani pendidikan dokter gigi saya. Kota ini yang banyak membuat saya kesal karena menjauhkan saya dari rumah. Kota ini yang membuat saya menghilangkan hobi nonton saya karena tidak ada bioskop yang menayangkan film secara tepat waktu. Kota ini membuat saya semakin gemuk karena harga makanannya bisa dikatakan murah. Kota ini membuat saya tidak bisa mengikuti obrolan teman-teman lama saya saat kami reuni kecil karena memang di Jember tidak ada apa-apa. Saya tidak suka Jember.
Jember.
Kota ini yang sering membuat saya berkeringat banyak-banyak di wajah karena suhunya yang memang agak 'hangat' (memperhalus kata PANAS). Kota ini membuat saya menjadi anak kos karena memang rumah saya agak jauh dari Jember. Kota ini yang membuat saya terkadang cengok saat ngobrol dengan beberapa orang karena terkadang mereka mempergunakan bahasa Madura yang tidak saya mengerti sedikitpun. Kota ini yang membuat saya biduran saat pulang ke Malang, karena terbiasa dengan suhu hangat disini. Ahhh, saya memang tidak suka Jember.
Jember.
Kota ini sering membuat saya jenuh karena saya tidak menemukan tempat kongkow yang saya suka. Kota ini membuat saya kesusahan membeli baju karena jarang sekali ada tempat yang menjual baju big size. Kota ini sering menyasarkan saya karena terlalu banyak jalan 1 arahnya. Kota ini memang mengesalkan. Lagi dan lagi saya serukan bahwa saya tidak suka Jember.
Namun entah kenapa, setelah saya menjalani bagian Ilmu Kesehatan Klinik (IKK) selama 1,5 bulan di kota yang berbeda, yaitu Banyuwangi, Jember semacam mengguna-guna saya untuk jatuh cinta kepadanya. Keinginan untuk ke Jember selalu menghantui saya. Ahh Tuhan, saya terkena karma. Karma membuat saya menyadari betapa Jember itu tidak semenyedihkan yang saya angankan. Jember itu membuat saya kangen. Jember itu menyamankan..
Jember.
Kota ini menghadiahkan gelar dokter gigi di depan nama saya. Kota ini menyulap saya sedikit lebih mandiri karena menjauhkan saya dari rumah. Kota ini membuat saya akrab dengan banyak pemilik persewaan CD karena saya rajin menyewa film-film new release yang tidak bisa saya saksikan di bioskop. Kota ini menghilangkan sifat cerewet saya ketika bertemu teman-teman karena memang saya tidak memiliki bahan cerita :) Jember ini ajaib!
Jember.
Sudahlah saya mengakui bahwa selama ini penilaian saya. Memang jember membuat saya sering nyasar dan menggemuk secara signifikan, namun kota ini yang mempertemukan saya dengan beberapa orang pilihan yang banyak mengisi kehidupan saya. SINTA, super soulmate saya. BOSGENG, MBAK ADEL, BUNDA YULIA, sahabat dan guru kehidupan saya. Mereka mendewasakan saya dengan cara mereka. CHANDRA sahabat lelaki nomer satu yang super duper kocak dan suka selenge'an. VEBRI dan TOPIK partner dikala galau, butuh teman curhat?! Pasti mereka siap. :)) Mereka yang membuat Jember seperti surga mini. Tempat yang meragukan untuk ditinggalkan.
Tidak semua yang kita anggap baik itu baik untuk kita. Tidak semua yang kita anggap buruk itu buruk untuk kita. Terkadang apa yang kita anggap buruk itu malah yang terbaik untuk kita. Inilah yang saya pelajari dari kota ini :) Saya menganggap bahwa Jember ini buruk untuk saya. Nyatanya banyak hal yang saya dapat disini. Ini misteri. Tuhan selalu memiliki alasan untuk setiap keputusannya, termasuk memiliki alasan menempatkan saya di Jember. Saya bukan kebetulan di tempatkan Tuhan disini. Karena banyak ada sebab akibat saya ditempatkan disini. Jember tidak semengerikan bayangan saya. Jember membuat saya jatuh cinta yang sesungguhnya.
With ♥,
Irma Yunita Wijayanti
No comments:
Post a Comment