Saturday, 1 November 2014

Dokter Gigi (akhirnya)

Alhamdulillah. 
Akhirnya. 
Irma. 
Yunita. 
Jadi. 
Dokter Gigi
.
Maaf ya, bukannya mau pamer atau sok-sokan gitu. Ini merupakan dampak saking girangnya saya setelah melihat pengumuman hasil Ujian Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (UKDGI) di website Kolegium Kedokteran Indonesia (KKI). Pengumuman ditengah-tengah waktu saya jaga poli gigi yang menyatakan bahwa “drg. Irma Yunita telah KOMPETEN”. Alhamdulillah. Sepanjang perjalanan pulang kerja saya bernyanyi dengan girangnya. Lagu wouldn’t it be nice-nya beach boys mengiringi kebahagiaan saya malam itu. ini adalah salah satu moment terindah dalam hidup saya. ini cita-cita saya. untuk mencapai hal ini saya akui tidak mudah. Saya menghabiskan waktu selama 6 tahun lamanya. Dan akhirnya gelar dokter gigi bisa saya sandang. Alhamdulillah.

6 Tahun yang lalu, entah tepatnya tanggal berapa di bulan Agustus 2008 saya terdaftar sebagai mahasiswa Kedokteran Gigi Universitas Jember. Pertama kalinya saya hidup terpisah dengan orang tua dan berperan sebagai mahasiswa baru yang baru merasakan pedihnya hidup nge-kos. Banyak cerita lucu jaman MABA terutama ketika menjalani Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2 MABA) atau yang lebih akrab kita sebut dengan OSPEK.




Saat menjadi peserta PK2 MABA yang kala itu dinamai “OCCLUSAL” rasanya selalu ingin menggerutu dengan tugas-tugas yang diberikan kakak-kakak pendamping. Setiap berangkat OCCLUSAL bawaannya bukan roti sekeranjang, tapi deg-degan segunung. Kami dikenalkan dengan berbagai istilah medis yang berhubungan dengan kedokteran gigi yang sangat asing di telinga kami. secara naluriah hal yang asing akan susah diterima oleh ingatan kita dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh kakak-kakak pendamping. Setiap pagi sebelum memulai  OCCLUSAL akan ada password yang harus kita hafalkan dan itu sangat menyiksa (ex: meatus acuticus externus). BHAY! Sudah dapat dipastikan kalo akan terjadi 1675 kesalahan penyebutan password tersebut.





Kehidupan setelah PK2 MABA dimulai setelah 9 atau 10 kali pertemuan OCCLUSAL kami rampungkan. Ternyata apa yang dilakukan kakak pendamping OCCLUSAL tidak hanya untuk menyiksa kami semata. Kerasnya kehidupan kampus sudah pernah dikenalkan kepada saya saat menjalani OCCLUSAL, jadi sudah ada kata “maklum” di dalam otak saat satu demi satu penyiksaan perkuliahan saya rasakan.



Kegiatan MABA FKG itu padat. Tidak hanya kuliah, tetapi ada tutorial alias diskusi bersama, preklinik, praktikum, tugas dan sebagainya. Belum lagi diakhir masa perkuliahan kami harus menyusun skripsi yang berbarengan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dua kegiatan yang sangat bersebrangan, KKN yang sangat menyenangkan karena diisi dengan haha hihi tak jelas arah dan skripsi yang memeras otak dan hati. Dengan semangat yang semakin memudar, saya berusaha menyelesaikan skripsi saya. demi wisuda tepat waktu!





Pada tanggal 17 Maret 2012 Alhamdulillah saya bisa wisuda. Tepat 3.5 tahun pendidikan, gelar Sarjana Kedokteran Gigi (S.Kg) tersemat dibelakang nama saya. perjuangan panjang berliku akhirnya berbuah manis.




WELCOME TO THE JUNGLE, ya Dek” ucap kakak-kakak yang menyalami saya saat wisuda. Setelah wisuda, tahapan yang harus saya jalani untuk mendapat gelar dokter gigi adalah Profesi Dokter Gigi atau yang lebih merakyat dengan sebutan “Klinik”. Nah siksaan akan lebih nyata saat kita menempuh jenjang profesi ini. namun pernyatan “welcome to the jungle” bukan isapan jempol belaka. Klinik memang benar-benar hutan belantara super liar yang harus ditakhlukan! Kita berperan sebagai monyet yang baru di release di hutan setelah direhabilitasi. Dan dosen-dosen pembimbing adalah hewan buas pemangsa. Ahaahaha, analogi yang berlebihan tetapi hampir sesuai kenyataan.




Stase-stase yang harus kami lalui ada 10 stase. (1). Periodonsia; (2). Oral Medicine; (3). Bedah Mulut; (4). Prostodonsia; (5). Konservasi; (6). Ortodonsia; (7). Pedodonsia; (8). Public Health; (9). Ilmu Kesehatan Klinis; (10). Integrasi. Setiap stase memiliki requirement yang sudah siap menjegal langkah saya untuk lulus cepat. Dalam proses saya menempuh profesi saya mengalami kegagalan menakhlukan keganasan klinik Bedah Mulut, Konservasi dan Pedodonsia. Telak sekali FKG merenggut masa muda saya yang seharusnya saya isi dengan goler-goler di pinggir pantai. Haha.





Saya menempuh seluruh stase tersebut 2 tahun (yang seharusnya 1.5 tahun) dengan perjuangan yang setengah hidup. Sesungguhnya kehidupan Klinik memang begitu kejam. Penderitaan saya masih belum berakhir, Bung! Saya masih dinanti oleh Ujian Komprehensif atau kalau jaman dulu dibilangnya Ujian Profesi (UP) yang merupakan ujian pamungkas yang bersifat lokal. Ujian Kompre ini adalah ujian yang benar-benar membuat saya down karena saya harus mengulang sebanyak 3 kali untuk bisa melaluinya. Untungnya saya selalu didampingi oleh sahabat-sahabat saya untuk melalui ujian yang sungguh AS*HOLE ini.

Ujian Komprehensif yang pedih akhirnya sudah berlalu dan ada satu ujian pamungkas lagi yang bersifat Nasional, yaitu Ujian Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (UKDGI) yang dilaksanakan tanggal 15 Agustus 2014. Ini ujian yang benar-benar mengerikan karena ini diawasi dari pusat menggunakan CCTV yang berada di seluruh penjuru negeri. UKDGI terdiri dari OSCE (Objective Structure Clinical Examination) dan CBT (Computer Based Training). Istilah gampangnya satu ujian tulis dan satunya ujian lisan. Ah sungguh ujian ini bikin saya stress bingit.

Akhirnya SUMPAH DOKTER GIGI! Saya kloter terakhir mahasiswa profesi dokter gigi yang boleh mengikuti penyumpahan walaupun belum melaksanakan UKDGI. Setelah saya, peraturannya berubah. Penyumpahan hanya boleh diikuti mahasiswa profesi dokter gigi yang sudah dinyatakan LULUS UKDGI. Bersyukur deh saya masih ikut peraturan lama karena peraturan baru tersebut menambah lama masa studi. Semoga peserta penyumpahan setelah saya dibesarkan pantatnya dan dilapangkan hatinya untuk mengikuti peraturan pemerintah yang baru. Aamiin.

Sumpah Dokter Gigi ke-72 rencananya akan diselenggarakan 15 Juli 2014 dimana akan dilaksanakan ketika kami menjalankan ibadah puasa ramadhan. Jadi agak ribet ngurusin konsumsi yang sekiranya kaga bas kalo dimakan sore. Peserta penyumpahan kali ini bener-bener irit, hanya 14 orang saja. Ternyata acara penyumpahan ini tidak se-simple  yang saya perkirakan. Kami harus menyiapkan segala-galanya sendiri mulai dekor, vandel, buku kenangan, cinderamata, kostum untuk pre sumpah, konsumsi beserta tetek bengeknya. Untung ya peserta penyumpahan 72 ini kompaknya ga ketulungan. Kapten dari penyelenggaraan sumpah ini adalah Mas Erwin. Kami menikmati segala keribetan yang tercipta sebelum sumpah digelar, termasuk foto pre sumpah yang sangat menyita tenaga. Ternyata menjadi model itu tidaklah mudah! CAPEK!!






15 Juli 2014 saya rela bangun jam 3 pagi demi tampil “tidak biasa” di acara penyumpahan. Saya memilih penata rias yang mendandani Rosita kala dia sumpah lalu. Yongki Wardhana namanya. Galerinya cukup jauh namun saya rela menembus subuh bersama Wakjo. Eh bersama Rosita juga yang saya mintai tolong untuk mengabadikan momen dandan-mendandani ini. haha. Dan ternyata hasilnyaaaa ...




Setelah dandan cantik dan unyu, kami bergegas menuju tempat penyumpahan. Alhamdulillah belum terlambat dan kami sempat berfoto-foto terlebih dahulu hingga puas. Hehe. Pukul 09.00 tepat acara penyumpahan dimulai. Buset deh, belum apa-apa saya udah terharu aja, waktu jalan menuju bu dekan untuk bersalaman. Merinding rasanya. Akhirnya saya bisa memberi mami dan papi gelar di depan nama saya.






Histeria sumpah dokter segera pupus, tergantikan dengan kepanikan UKDGI yang mendekat. Belajar mengerjakan soal-soal tahun lalu saja sibuk diisi dengan membuka buku dan googling, gini mau UKDGI. BHAY! Untungnya pihak fakultas mengadakan Try Out UKDGI. Baru TO aja udah ndredeg ga karuan. Udah pada suntuk semua wajahnya. Seminggu setelah TO, UKDGI yang sesungguhnya menyapa kami. peserta UKDGI kali ini berjumlah 43. Saking banyaknya peserta UKDGI, waktu yang dibutuhkan semakin baaanyaaak (untuk OSCE). Kami start pukul 07.00 dan baru boleh diijinkan meninggalkan ruang ujian menjelang magrib. Segala bau ketek dan keringat mengumpul jadi 1 tak jelas arah. Haha.

Pengumuman hasil Ujian dapat kami terima sekitar 2 minggu setelah ujian. Bisa di cek secara online karena ujiannya dilaksanakan serentak seluruh Indonesia kan. Dan setelah mengisi 2 minggu saya dengan merayu Tuhan agar meluluskan saya, akhirnya saya dinyatakan lulus. KOMPETEN!!! Yeay!!! FKG UNEJ angka kelulusannya 90% lebih untuk CBT, dan 100% untuk OSCE. ALHAMDULILLAH :)