Thursday, 31 January 2013

congraduation RISKA WARDHANIYATI


Sekitar awal november tahun lalu saya kedatangan tamu istimewa di kosan. Teman dari kosan lama saya. Namanya RISKA tapi saya akrab dengan panggilan IIK. Jauh ya nama panggilannya?! Gapapalah, daripada ketuker manggilnya, dulunya ada dua nama Riska di kosan lama, jadilah 1 harus dikorbankan untuk berubah nama. Dan iik yang kudu berubah, alhamdulillah kehidupannya jauh lebih baik setelah berubah nama. Nama panggilan itu saya lo yang kasih, dan sampai sekarang dia akrab dengan panggilan Iik tadi.

Perempuan kecil ini merantau ke Jawa, jauh-jauh dari Aceh untuk jual diri. Eh engga ding, untuk kuliah di jurusan tekhnologi hasil pertanian. Niatnya mau mengolah hasil pertanian utama di Aceh untuk jadi keripik kaya di Malang. Keripik ganja. Dan yang lebih inovatif lagi, dia mau bikin dodol ganja salut coklat. Mahadahsyat! Tapi dia cocoknya jadi anak FKG, abisnya dia kenal hampir semua anak FKG angkatan saya karena keseringan saya ajakin ikut kumpul angkatan. FKG wannabe :D



Iik sudah hampir 3 bulan pulang kampung, tapi harus kembali ke Jawa buat ngurusin prosesi wisuda dan ngurus segala surat-menyurat. Kuliahnya sudah selesai tapi dia ngganggur 4 bulanan lah untuk menunggu giliran wisuda. Karena Iik udah engga ngekos, jadilah dia numpang di kosan saya pas wisuda’an itu. hampir 1 bulan saya dan Iik hidup bersama dalam 1 atap namun kami belum juga dikaruniai momongan. Astagfirullah.



4 tahun yang lalu, saya dan Iik tinggal di 1 kosan yang sama, Jln. Batu Raden no. 14. Iik adalah salah satu penghuni kosan yang paling dekat dengan saya. nyaman untuk bercerita apapun ke Iik. Saya lebih sering menghabiskan waktu di kamar iik dibandingkan di kamar saya sendiri. Selain karena kamarnya rapi, orangnya juga seru banget diajakin ngobrol. Baru dapet setengah tahun, Iik memutuskan untuk pindah. Alasannya karena ibu kos kami yang dulu itu bau badannya menggemparkan dunia. Selain itu karena jam malam yang sangat-sangat ketat sedangkan kegiatan Iik di dominasi kegiatan ekstra yang membutuhkan waktu ekstra pula. akhirnya Iik pindah, dan 2 tahun kemudian saya mengikuti jejak Iik. Dan jadilah kami jarang bertemu dan berkomunikasi. Yah layaknya suami istri yang pisah ranjang lah.




Selama satu bulan bersama Iik banyak saya habiskan dengan bercerita sepanjang malam, nostalgila abis! Banyak kegiatan jalan-jalan di akhir pekan yang kami lakukan bersama. Yang paling menyenangkan ya main arung jeram di Songa :D Kegiatan kami memang monoton tapi tidak pernah terasa membosankan. Mendekam di kamar kosan seharianpun pernah kami lakukan. Haha. Ada yang membuat Iik betah juga di kosan, karena ada si kucing abu-abu nan unyu, si Nala, Poppy, dan Rocky. Setiap hari kerjaannya Nala nggoser-nggoserin kepala ke Iik. Iik yang awalnya takut kucing jadi seneng ama kucing. Bahkan dia berniat buka pet shop di Aceh nantinya. Semoga beneran terwujuuuuuud :D




Akhirnya hari wisuda Iik dateng juga. Saya sempet lho berdoa supaya hari wisudanya dimundurkan, supaya waktu bersama saya dan iik masih panjang. Dan ternyata Tuhan tidak mengabulkan. Ya kali Tuhan mau mengabulkan doa satu orang dan mengecewakan ribuan orang. Bisa digetok Tuhan kepala saya. Ahahaha. Dan dengan sedihnya saya datang ke acara wisuda iik. Hanya satu tujuan, foto bareng! Sungguh narsis sodaraaaa -____-“



1 minggu setelah wisuda Iik harus kembali ke Aceh. Dan kemungkinan kembali ke tanah Jawa 0,0005%. Yah, bisa dibayangkan deh sedihnya saya ditinggalin sahabat yang paling pengertian di muka bumi ini dan kami hanya akan bertemu di line telpon. Nyesek! Saya peluk kuat-kuat si anak kecil hitam dan berjerawat ini.



Dear, Iik.
Selamat atas wisudanya. Selamat sudah mendapat nilai IPK yang sangat memuaskan. Dan selamat menempuh kehidupan yang sebenarnya setelah lepas dari bangku perkuliahan. Terima kasih untuk asam manis pertemanan yang tercipta 4 tahun terakhir ini. Aku tidak akan pernah lupa kamu, janji. Doakan supaya aku bisa main ke Aceh ya Ik. I miss you :* 

Saturday, 26 January 2013

SongAdventure

Selamat Pagi !

Saya mau berbagi cerita nih. Tanggal 16 November 2012, saya bersama 4 teman perempuan saya mengisi waktu liburan dengan bermain arung jeram di Songa, Probolinggo. Itu looo, yang punya nya alm. Aji Masa’id. Kalo ditempuh dari Jember menggunakan motor menghabiskan waktu 2 jam. Ya lumayan bikin boyok yang sudah termakan usia ini encok pegel linu. Karena untuk transportasinya saja pulang pergi kita membutuhkan waktu 4 jam. Ah Songa, seandainya lokasimu tidak segitu jauhnya pasti tiap mandi pagi sama sore saya akan mandi disana.

Tidak ada satupun dari kami yang sudah pernah kesana. Ini membuat kami semacam Dora the Explorer, setiap ada orang yang wajahnya menyerupai peta maka akan kami interogasi. Dan setelah bertanya-tanya pada 100 audience, survey membuktikan bahwa Songa ini terbagi menjadi 2 lintasan jeram. Jeram atas yang panjangnya 10km dan jeram bawah 7km. Kami memutuskan untuk menuju jeram atas saja karena menurut beberapa orang yang kami tanyai, jeram atas itu pemandangannya jauh lebih bagus.

Datang disana kami disambut dengan hangat oleh pegawai Songa. Kami disuguhi welcome drink berupa teh botol sosro. Alhamdulillah, rejeki anak solehah. Secara selama perjalanan dari Jember menuju Probolinggo kami tidak sempat jajan ataupun minum. Kita dijelaskan mengenai keunikan Songa, rute yang akan kami tempuh dan yang terakhir mengenai biaya. Biaya yang kami keluarkan untuk setiap kepala sebesar Rp. 190.000. dan kami langsung mendapatkan jatah air mineral botolan untuk bekal selama berarung jeram.

Pembayaran telah kami lakukan dan sekarang saatnya memilih perangkat bertempur! Kecekatan kami menyerupai berburu baju diskonan di matahari. Haha. Kami harus memilih:
  1. helm pelindung yang paling kece dan kekinian
  2. jaket pelampung yang terbuat dari bulu domba liar sumbawa
  3. dayung yang minimal mampu membawa kami sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui

kami sudah siap menjadi anak gewl kekinian
Setelah kami siap tempur berikutnya kami dipersilahkan memilih guide. Dengan semangat berkobar-kobar kami sudah merencanakan memilih guide yang minimal ketampanannya sama dengan Vino G. Bastian. Namun semua hanya tinggal angan belaka. Haha. Diujung kegalauan mencari guide, pelabuhan terakhir kami bernama Mas Yanto.
mas yanto yang super duper sabar
Untuk menuju ke starting point arung jeram kami diangkut menggunakan mobil bak terbuka. Waktu yang dibutuhkan kira-kira 15 menit. Kemudian kami masih harus berjalan kaki sedikit menuju tepi sungai Pekalen, sungai tempat kami akan menghabiskan energi. Setelah semua rombongan terkumpul, kami melakukan briefing. Apa yang harus kami lakukan saat berada diatas perahu karet super unyu itu saat guide menginstruksikan aba-aba tertentu adalah inti dari briefing kali ini. insyaAllah kami paham. Petualangan dimulai!
Goa Kelelawar. Spot terkece dan terbau. bau eek kelelawar
Dayung yo dayung!

Jangan iri dengan foto-foto saya selama arung jeram ya! Segera coba sendiri sensasinya, benar-benar mengesankan. Tidak ada kata menyesal sekalipun energi kami terkuras habis-habisan. Jangan khwatir untuk yang tidak bisa berenang karena saya juga tidak bisa berenang dan alhamdulillah bisa hidup hingga detik ini. haha. Jaket pelampung adalah jawaban dari segala kegundahan manusia yang memiliki ambisi besar untuk bermain arung jeram namun tidak bisa berenang.

saya panik! haha
Sesampainya di pondok Songa, kami sudah disambut makanan khas Jawa Timur. Menunya adalah nasi jagung, urap-urap, sambel terasi, tempe tahu, daging goreng, ikan asin, dan air putih. Semua dilalap habis dalam waktu sekejap. Kami kelaparan! Sungguh ini menu pemadam kelaparan yang tepat sekali. Haha. Setelah makan kami memutuskan langsung pulang walaupun hari sudah mulai gelap. Jika kita ingin menginap, disini juga disediakan semacam cottage yang dibanderol per kepala Rp. 50.000.

agak blur fotonya. yang motoin rada ga ikhlas :p

Terimakasih Songa untuk pengalaman serunya. SONGADVENTURE :)