Pernahkah kesedihanmu dibarter secara utuh dengan kesenangan? Pernahkah kebencianmu akan sesuatu memudar karena dihapus perlahan tanpa bekas? Pernahkah keraguanmu yang abu-abu dihitamkan dengan nyata menjadi suatu garis tegas? Pernahkah mimpi burukmu diusir dan terganti sempurna menjadi nyata yang indah? Pernahkah bayangan seram yang kamu takutkan berubah menjadi bayangan lucu yang kamu sukai?
Pernahkah kamu menemukan sosok yang bisa tertawa dibawah payung sedihnya? Pernahkah kamu menemukan sosok yang kelaparan namun rela memberikan rotinya untukmu? Pernahkah kamu menemukan sosok yang selalu mengangkatmu sekalipun orang disekitarmu menjatuhkanmu? Pernahkah kamu melihat orang yang sedang terluka namun sibuk membalut luka kecil yang membuatmu menangis?
SAYA PERNAH !
Saya memanggilnya Mbak Adel. Nama lengkapnya Adelina Koyumi. Bukan perkara dia lebih tua dari saya lantas memanggilnya dengan sebutan ”mbak”. Tapi karena kedewasaan yang menyertai sosoknya. Dia cantik, tapi tidak lantas merasa lebih dengan kecantikannya. Dia cerdas, namun pemikirannya jauh dari kata menggurui. Istimewa? Iya, sangat istimewa. Beruntung saya mengenalnya dan bisa bersahabat dengannya. Segala kekurangan saya tidak menjadi sesuatu yang dipandang, dia anggap transparan, tidak ada. Dan kelemahan saya disokong kuat oleh bijaksananya. Tangisan saya dirubahnya menjadi semacam cerpen dengan durasi baca 15 detik. Pendek. Segera berakhir.
Tidak pernah ada ketakutan untuk bercerita tentang semua hal yang membuat saya senang, sedih, bahagia, menangis, bahkan tertawa sendiri. Tidak pernah ada keraguan untuk mengganggunya dengan tangisan diujung telepon saat liburan panjang datang. Tidak pernah ada malu untuk mengakui kesalahan-kesalahan yang pernah saya lakukan. Tidak pernah ada kata tidak disaat kata tolong terucap dari bibir saya. iya, dia, Adelina Koyumi.
Sesempurna apapun mbak adel, dia hanya manusia biasa ciptaan Tuhan yang tak luput dari kekurangan. Tidak ada yang sempurna. Kekurangan yang mencolok dan sama dengan kekurangan saya adalah PELUPA! Sangat-sangat pelupa tingkat dewa. Berubah menjadi sejenis makhluk galau saat orang bertanya mengenai kunci, kontak, dan sejenisnya. Dan terkadang, dibalik kecerdasannya, tersembunyi kelemotan yang luar biasa. Suka telmi gitu deh mbak Adel ini.
Banyak cerita pertemanan saya dengan Mbak Adel. Banyak sekali cerita kocak yang jika diingat akan membuat kami tertawa terbahak-bahak. Karena banyak kenangan indah inilah saya tidak akan pernah mau untuk sedikit jauh darinya. Takut kenangannya terhapus oleh jarak. Biarlah saya dekat-dekat mbak adel, toh saya sudah jinak dan tidak rabies.
Terimakasih ya Mbak Adel, sudah mau menjadi sosok yang aku jawab “PERNAH” tadi. Terimakasih :*
No comments:
Post a Comment