Sunday, 26 January 2014

Bosamba Rafting, Bondowoso

Hey hey hey!

Hari kamis 22 Januari 2014 kemarin, saya dan 5 teman perempuan setengah laki-laki saya bermain ke Bondowoso. Kami mau arung jeram di Bosamba. Untuk menghilangkan sedikit stress mikirin urusan kampus yang bikin mampus. Ini acara bepergian yang menurut saya paling ga ruwet. Sekali deal, ketemuan, langsung berangkat deh tanpa babibu. Ga katek ruwet blas :D

Jam 12.30 kami berangkat dari Jember menuju ke Bondowoso. Kesiangan sih intinya. Jadinya nyampe di Bosamba itu jam setengah 2 siang. Pake acara nyasar itu yang bikin lama. Bukan Irma namanya kalo ga nyasar saat bepergian. Mana saya nyasarnya jauuuh lagi. Payah! Alhamdulillah sih saya dan sinta masih bisa menemukan jalan kebenaran menuju Bosamba. Temen-temen yang lainnya udah nungguin saya  di pinggiran jalan. Pada njamur saking lamanya nungguin saya.

Pukul 13.30 kami tiba di Bosamba. Yeah! Sungguh tempat yang sangaaaaaat STANDAR. Dengan fasilitas yang sangaaaaaat BIASA. Saya jadi terkesan membandingkan karena sebelumnya saya sudah pernah arung jeram di Songa. Insting pembanding jadi muncul deh. ampun ampun.

Datang di Bosamba kami disambut pengelola utama Bosamba yang sudah mengobrol dengan saya via bbm semalam yang namanya ... saya tidak tau. Hal pertama yang kami lakukan adalah NEGOSIASI HARGA. Secara kami adalah anak kos yang SELALU pas-pasan. Negosiasi kami bisa dibilang setengah berhasil karena kami mendapat POTONGAN HARGA! Dari harga total yang awalnya Rp. 1.050.000 untuk 6 orang, jadi Rp. 1.000.000. lumayan. 50rb bisa dipake untuk makan sebulan. Hahaha.

Kami dipersilahkan mengenakan perlengkapan tempur yaitu helm, jaket pelampung, dan dayung. Kemudian kami menerima pengarahan dari ... saya tidak tau lagi namanya. Sebut saja Supri. Mas Supri mengarahkan mengenai aba-aba yang akan kami terima saat diatas perahu karet. Setelah ituuuuu .. kami berjalan kaki menuju sungai tempat kamu pengarungan. Sungai SAMPEAN BARU.

Pengarahan oleh Mas Supri
kami siap cemplung-cemplungan di kali!
Track yang akan kami lalui ini panjangnya 14km. Ini akan menjadi 14km yang sangat menegangkan karena debit air sedang besar-besarnya karena seharian kemarin hari hujan dan air masih tinggi. Dengan dipandu 1 guide kami mulai mengarungi sungai Sampean. Bismillah.

Ternyata arus begitu besar dan mas guide kami yang namanya .. saya tidak tau .. sebut saja Supri 2 merasa kuwalahan. Akhirnya mas Supri 2 meminta bantuan beberapa guide yang membuat kami ber6 terbagi menjadi 2 team. Jadi di dalam 1 perahu karet terdapat 4 guide 3 pengunjung. Malah banyakan guide nya coba?! Ada mas Supri 2, 3, 4, dan 5 diperahu saya. sungguh ini mengerikan. Pengarungan dilanjutkan!

entahlah air terjun apa ini namanya
Ada kalanya sungai Sampean ini arusnya begitu tenang dan membuat kami melongo memandang indahnya alam. Arus yang tenang ini berbanding terbalik dengan kepribadian mas Supri ini. dengan sangat jahil mereka menceburkan kami ke sungai. Bisa dibayangkan saya se-histeris apa?! SAYA GA BISA BERENANG! Teriakan saya menggema dimana-mana. padahal saya tidak mungkin tenggelam karena ada jaket pelampung. Saya memang sering berlebihan. Haha. Ada hal yang saya anggap susah di dunia ini selain berenang, yaitu menaikkan tubuh saya yang berukuran besar dan dalam kondisi basah kuyup ke perahu karet. Astagfirullah, susah!

semua diceburin semacam ini sama mas Supri.

Setelah setengah perjalanan kami ditempuh, kami menepi dan dijamu dengan gorengan hangat dan teh jahe. Ahh saya ga suka jahe. Ya sudah saya hanya melahap gorengan dan minum air putih saja. Air putih lebih menyehatkan ketimbang teh jahe dan Krating Daeng. Kemudian setelah puas berfoto-foto kami melanjutkan perjalanan menuju titik finish. Dan disinilah rasanya arung jeram. Jeram-jeram penutupannya begitu sadis sodara! Teriakan 6 perempuan ini ga ada putusnya. Serem euy!! Tapi kami sangat PUAS. :)

nyantai dulu di kilo meter 7

Akhirnya kami tiba di titik finish setelah pengarungan selama 2 jam dan kami sudah ditunggu oleh mobil pick up di pinggir jalan. Sayangnya pinggir jalannya jauh dari tempat finish kami. kami harus berjalanan kaki melewati jalan menanjak yang lumayan membuat saya susah bernafas! Sumpah, tanjakannya kagaak nahaan. Haha. Saya yang Cuma bawa badan aja rasanya sudah remuk redam, apalagi mas Supri 2, 3, 4 dkk yang harus nanjak sambil menggendong perahu karet yang tadi kami tumpangi?! Rasakan! Itu karma karena sudah menceburkan saya ke sungai. Haha.

Perjalanan menaiki pick up menuju tempat kedatangan awal kami tadi ternyata cukup JAUH. Dengan jalanan yang cukup MENGERIKAN. Sambil jejeritan ditengah perkampungan warga kami berusaha memegang apapun yang bisa memfixasi tubuh kami. haha. Sesampainya di tempat kedatangan, kami buru-buru deh membersihkan badan. Karena kondisi kami basah kuyup. Dan sayangnya kamar mandi hanya ada 2 dan itu membuat kami antri-antrian sambil menahan pipis. Eergghhh.

Lapar mengisi relung jiwa kami, dan nasi jagung beserta lauknya sudah siap kami santap. Wooohoooo! Kalap sekali rasanya menyantap makanan yang sudah dipersiapkan. Antara makanan ini yang rasanya enak atau kami yang kelaparan. Semuanya samar. Haha. Pukul 17.30 kami meninggalkan Bosamba menuju Jember. Kondisi sangat tidak mendukung karena kami dikepung hujan. Tidak cukup berbasah-basahan karena arung jeram, kami harus berbasah-basahan karena air hujan. Haha


Monday, 20 January 2014

Jember

Jember.
Kota ini yang mengungkung saya selama lebih dari 5 tahun untuk menjalani pendidikan dokter gigi saya. Kota ini yang banyak membuat saya kesal karena menjauhkan saya dari rumah. Kota ini yang membuat saya menghilangkan hobi nonton saya karena tidak ada bioskop yang menayangkan film secara tepat waktu. Kota ini membuat saya semakin gemuk karena harga makanannya bisa dikatakan murah. Kota ini membuat saya tidak bisa mengikuti obrolan teman-teman lama saya saat kami reuni kecil karena memang di Jember tidak ada apa-apa. Saya tidak suka Jember.

Jember.
Kota ini yang sering membuat saya berkeringat banyak-banyak di wajah karena suhunya yang memang agak 'hangat' (memperhalus kata PANAS). Kota ini membuat saya menjadi anak kos karena memang rumah saya agak jauh dari Jember. Kota ini yang membuat saya terkadang cengok saat ngobrol dengan beberapa orang karena terkadang mereka mempergunakan bahasa Madura yang tidak saya mengerti sedikitpun. Kota ini yang membuat saya biduran saat pulang ke Malang, karena terbiasa dengan suhu hangat disini. Ahhh, saya memang tidak suka Jember.

Jember.
Kota ini sering membuat saya jenuh karena saya tidak menemukan tempat kongkow yang saya suka. Kota ini membuat saya kesusahan membeli baju karena jarang sekali ada tempat yang menjual baju big size. Kota ini sering menyasarkan saya karena terlalu banyak jalan 1 arahnya. Kota ini memang mengesalkan. Lagi dan lagi saya serukan bahwa saya tidak suka Jember.

Namun entah kenapa, setelah saya menjalani bagian Ilmu Kesehatan Klinik (IKK) selama 1,5 bulan di kota yang berbeda, yaitu Banyuwangi, Jember semacam mengguna-guna saya untuk jatuh cinta kepadanya. Keinginan untuk ke Jember selalu menghantui saya. Ahh Tuhan, saya terkena karma. Karma membuat saya menyadari betapa Jember itu tidak semenyedihkan yang saya angankan. Jember itu membuat saya kangen. Jember itu menyamankan..

Jember.
Kota ini menghadiahkan gelar dokter gigi di depan nama saya. Kota ini menyulap saya sedikit lebih mandiri karena menjauhkan saya dari rumah. Kota ini membuat saya akrab dengan banyak pemilik persewaan CD karena saya rajin menyewa film-film new release yang tidak bisa saya saksikan di bioskop. Kota ini menghilangkan sifat cerewet saya ketika bertemu teman-teman karena memang saya tidak memiliki bahan cerita :) Jember ini ajaib!

Jember.
Sudahlah saya mengakui bahwa selama ini penilaian saya. Memang jember membuat saya sering nyasar dan menggemuk secara signifikan, namun kota ini yang mempertemukan saya dengan beberapa orang pilihan yang banyak mengisi kehidupan saya. SINTA, super soulmate saya. BOSGENG, MBAK ADEL, BUNDA YULIA, sahabat dan guru kehidupan saya. Mereka mendewasakan saya dengan cara  mereka. CHANDRA sahabat lelaki nomer satu yang super duper kocak dan suka selenge'an. VEBRI dan TOPIK partner dikala galau, butuh teman curhat?! Pasti mereka siap. :)) Mereka yang membuat Jember seperti surga mini. Tempat yang meragukan untuk ditinggalkan.

Tidak semua yang kita anggap baik itu baik untuk kita. Tidak semua yang kita anggap buruk itu buruk untuk kita. Terkadang apa yang kita anggap buruk itu malah yang terbaik untuk kita. Inilah yang saya pelajari dari kota ini :) Saya menganggap bahwa Jember ini buruk untuk saya. Nyatanya banyak hal yang saya dapat disini. Ini misteri. Tuhan selalu memiliki alasan untuk setiap keputusannya, termasuk memiliki alasan menempatkan saya di Jember. Saya bukan kebetulan di tempatkan Tuhan disini. Karena banyak ada sebab akibat saya ditempatkan disini. Jember tidak semengerikan bayangan saya. Jember membuat saya jatuh cinta yang sesungguhnya.


With ♥,
Irma Yunita Wijayanti

Thursday, 31 October 2013

Foto Keluarga

Hey !

AKHIRNYA SAYA PUNYA FOTO KELUARGAAA.. AUOOOO.. hahaha

Mami dan Papi menikah pada bulan Oktober 1980. Jika dihitung-hitung Mami dan Papi sudah berumah tangga hampir 33 tahun. Sudah berkeluarga selama ini, tak ada satupun foto keluarga yang menggantung di tembok rumah kami. saya sempet ngambek ngajakin foto tapi ya tetep aja sih engga jadi foto. Sampe akhirnya Mami memutuskan untuk foto keluarga dengan inisiatif sendiri. Alhamdulillah! Keburu tua saya nya kalo ga buru-buru foto keluarga. Jujur nih yaa, saya excited banget deh pulang ke rumah gegara dijanjiin buat foto keluarga. Perjalanan Jember Malang serasa sekedipan mata (kalo ini saya bohong).

Sesampainya di rumah, esok harinya Mami langsung pesen ke salah satu studio foto tertua di Malang. Studio ini udah ada sebelum saya lahir. Bahkan sudah ada sejak saya masih jadi entut. Haha. Persiapan dimulai. Mami, Saya dan Istri mas saya kembaran menggunakan baju berwarna ungu. Mas sama Papi sama-sama pake hem kotak-kotak. Dan si mungil Levi pake batik. Keluarga saya memang Bhineka Tunggal Ika abis.

Emang dasarannya saya engga bisa dandan, ya sudahlah saya foto apa adanya. Lipstik pun tidak. Hanya sedikit bedak saja (yang hilang 30menit kemudian karena keringat mengucur deras). Yang penting FOTO!! (jiwa model saya bergejolak kencang). Kami disambut oleh sang fotografer perempuan diarahkan memilih background foto. Setelah pas semua, keluarga kami mulai sesi foto.

33 tahun menjadi orang tua super :*
Ini nih yang paling khas dari Papi, ga pernah senyum kalo foto. Selalu cool dan tegang. Biasa deh, tentara. Mana ada foto tentara senyum. Itu sih kilahnya Papi. Haha. Tapi mau seperti apapun saya tetep sayang kok Pi. Kepribadian Papi tidak semengerikan wajah Papi yang tanpa senyum pas di foto. Papi orangnya ramaaah banget dan atraktif kalo diajakin ngobrol. Kadang malah keaktifan -___-“

Doakan saya segera memiliki foto seperti keluarga abang saya ya! :p

Yang paling susah dari sesi foto ini adalah mengumpulkan mood si tengil Levi. Sumpah susah banget ponakan satu ini buat disuruh senyum. Karena ga biasa di foto orang lain, jadilah dia susah banget buat senyum. Dan posenya pose ulet uget-uget kendut-kendut. Hahaha. Yang perlu digarisbawahi adalah ponakan saya adalah COWOK bukan CEWEK. Hahaha. Banyak yang salah karena rambutnya yang gondrong itu.

ini keluarga inti kami. papi mami mas dan saya :)

ini formasi keluarga baru kami! bertambah mbak viva dan si mungil levi
Terima kasih Tuhan sudah mengirim saya ditengah-tengah keluarga yang sangat hangat ini. Jaga terus keluarga saya ya Tuhan! Amin.


Sunday, 7 July 2013

Jazz Gunung 2013

Hollaaa !

Alhamdulillah saya bisa dateng ke Jazz Gunung lagi untuk yang kedua kalinya. Bromo tetap dingin, tidak berkurang sedikitpun. Bromo tetap cantik, sama cantiknya seperti sebelumnya. Dan Bromo tetap menyenangkan untuk dikunjungi.

Berbeda dengan tahun lalu, tahun ini saya datang tidak hanya berdua saja namun datang ber .. EMPAT! Yeah keren kan. Peningkatan yang sangat signifikan. Saya berangkat sama Bunda Yullia, Meidi daaaaaan teman tersayang yang membuat leher saya varises tahun lalu, Chandra. menepati janjinya tuh si Chandra. “Ntar kalo aku ada mobil kita bisa nonton jazz gunung naik mobilnya aku”. Dan memang ditepati.

Blue. sebenernya saya sih gatau nama mobil Chandra ini sapa.
daripada ga ada namanya yawes toh saya kasih nama :p
Tanggal 22 Juni 2013 kami berempat berangkat menuju Bromo pukul brapa saya lupa pokonya mah sarapan dulu di Bu Darum ditraktir papa Meidi, drg. Rudi. Dengan mengendarai Blue, kami berangkat menuju ke Bromo. Woohoo!

Sepanjang jalan kenangan berangkat saya semacam mabok janda karena saya engga bisa duduk miring, nah mobilnya Chandra kan bangku belakangnya miring kaya yang punya. Untung ada antangin dan Bunda Yulia yang setia memijiti punggung. Sambil nyanyi-nyanyi, cerita-cerita, becanda ga jelas, sampailah kami di kaki gunung Bromo.

Sepanjang perjalanan banyak yang menjual cabe gendut-gendut lucu seperti terong berwarna merah dan ijo. Sebagai calon petani cabe yang sukses Chandra langsung deh gatel pengen beli. Bunda tampaknya juga tertarik. Sebagai calon koki di sebuah hotel bintang tujuh yang terpercaya, Bunda dengan asik memilih cabe. Saya? sebagai calon model profesional, saya pakailah rentengan cabe sebagai kalung. Setelah membeli dua renteng cabe kami melanjutkan perjalanan.

cabe nya montok dan gundek seperti .. saya ..

Sama seperti tahun kemarin, hal pertama yang kami lakukan adalah PARKIR MOBIL. Kemudian Chandra sebagai satu-satunya lelaki harus rela antri untuk TUKAR TIKET dong. Setelah tiket sudah nempel di pergelangan tangan kami MAKAN! Sama seperti tahun lalu saya makan di warung yang sama dengan menu yang sama, rawon. Dan saya ditantang Chandra untuk pesen ES TEH di tempat sedingin Bromo. Apa ga mabok ini bocah?! Yaudah saya mah pesen-pesen aja. tapi ternyata es nya kagak ada. Yaiyalah, sapa juga mau pesen es di tempat sedingin ini. ya cuma orang sengklek.

kira-kira apa yang sedang dilakukan oleh mas-mas yang manyun-manyun gajelas itu?! haha

makan rawon ! NYAM :)
Dengan perut kenyang dan hati senang, kami menuju venue JG. Antri euy. Sambil antri ya dengan sigap kami foto-foto. Saya sih seneng-seneng aja orang di fotoin. Setelah masuk venue kami foto di tempat wajib kalo dateng ke JG. Itu tuh, yang ada backdrop nya JG. Dari 3 foto yang difotoin orang, 2 foto muka saya cengok tingkat dewa. Astaga astaga astaga.
ketemu nieken loh di antrian masuk venue
ehm, saya cantik. udah itu aja.
ini bukti otentik kami nonton Jazz Gunung 2013
Gerimis menemani pembukaan JG yang dibuka oleh MC yang tidak pernah berganti, mas butet, alit, dan gandhi. Jam 16.00 acara baru dibuka. Telat boo, 2 jam. kan di rundown acara dimulai pukul 14.00. walo telat tapi tidak menyusutkan semangat dimata kami dong. Let’s Jazz! Ehh kami menyempatkan diri sebentar untuk membeli merchandise nya JG 2013. Kami membeli sweater JG dengan warna yang berbeda. Bagus!

model dan kamera nya sama. sama-sama jelek.
Penampil pertama yaitu band Jazz Etnik dari Malang yaitu Tahez Komes. Ini beneran enak banget deh musiknya. Vokalisnya nyanyi lagu Jaranan dengan sentuhan Jazz yang kece badai. Ini yang pegang bass adek kelas saya loh! Haha. Tapi saya lupa nah nama nya -___-“ Saya mau pamer sedikit nah ya, kalo kami duduknya di bangku VIP B. itu posisinya cukup dekat dengan pengisi acaranya. Hahaha. Astagfirullah, orang riya temennya setan. Ya Allah ampun yaa. Saya emang biasa temenan sama setn kaya Chandra, tapi saya gamau dalam golongan orang yang riya’ Ya Allah...
kami duduk disini, VIP B
Tahez Komes dari Malang
Penampil berikutnya adalah kelompok musik etnik dari madura yaitu Keramat Madura. Yang diikuti penampil ketiga band dari Bali yaitu Kul-kul Band. Kalo mendengarkan musik dari Kul-kul ini berasa lagi numpang baca buku di Gramedia. Musiknya tuh sejenis musik-musik yang sering dimainin di Gramedia. Instrumental gitu. saxophone nyaaaaa .. LEGIT.. udah kaya lapis deh legitnya.

Keramat Madura
Kul-kul Band
Penampil keempat diisi oleh Ring of Fire Projectnya Djaduk Ferianto feat. Jen Hsyu dan Idang Rasyidi. Dan sesungguh saya hanya bisa terbengong-bengong melihat kemampuan orang-orang didepan saya ini. ohh Tuhan, amazing bangeeeet. Tanpa notasi tertulis meraka nge-Jam tak terkendali. Ini namanya musisi! Ehh ada kejutan, pak menteri perdagangan Gita Wirjawan yang dulu pernah duet sama Tompi hadir dibangku penonton. Sang MC langsung gatel untuk mengundang Gita Wirjawan ke panggung juga nge-jam bareng. Jarinya semacam sudah sahabatan sama piano. Enak aja gitu lari-lari diatas piano. Keren!

narsis ditengah pertunjukan :p
Ring of Fire Project feat Jen Hsyu dan Idang Rasjidi
Idang Rasjidi
Jen Hsyu
GITA WIRJAWAN *love*
Setelah dimanja sama penampilan musisi-musisi super senior ini, berikutnya kami diajak bernyanyi bersama oleh Rieka Roslan. Sebagai generasi 90-an yang masih mengenal The Groove kami pun larut dalam lagu-lagu yang dinyanyikan Rieka Roslan. Berikutnya, sebagai penampil pamungkas muncullah Barry Likumahuwa Project feat. Beni Likumahuwa. Usia semakin membuktikan kematangan dalam bermusik. Om Beni kece sekali sekalipun giginya sudah habis. Keren deh. Pukul 23.30 JG selesai. Dan kami bersama dengan ribuan penonton lainnya meninggalkan venue JG.

Rieka Roslan yang membuat kita bernostalgia dengan tembang hits nya "Dahulu"
Barry Likumahuwa Project feat. Beni Likumahuwa
Barry Likumahuwa Project
Disinilah petualangan kami dimulai. Sesampainya di parkiran dan masuk ke dalam Blue, ternyata Blue ngambek gamau nyala. Blue semacam kedinginan. Tapi saya merasa ada yang aneh karena Blue ini mau nyala tapi kalo dikendarai menuju ke arah kanan dia mati. Kalo muter-muter diparkiran dia mau. Chandra ngebenerin Blue yang lagi ngambek, saya bagian nyenterin. Tapi tanpa hasil. Waktu sudah menunjukkan pukul 00.00. dan parkiran sudah kosong hanya ada kami dan beberapa panitia yang merapikan panggung.

Akhirnya Chandra minta tolong Mas-Mas panitia buat ngedorongin mobil. Saya juga ikutan dorong boo, latian otot biseps biar kuat. Posisi Chandra ada diluar mobil sambil ikut ndorong dan tetap sambil starter mobil. Dan saya dan 2 mas-mas yang begitu baiknya mendorong dengan semangat. Nah taunya kami ndorong mobil ke jalan turunan. Jadilah Blue meluncur dengan lajunya dengan Bunda dan Meidi di dalamnya. Chandra yang berada di luar mobil mau ngebuka pintu kesusahan, karena ternyata pintu terkunci. Sambil berlari akhirnya semacam si lumba-lumba, makan dulu, Chandra lompat melalui jendela dan langsung menarik hand rem. Dan Blue menggesot dengan indahnya berjarak 2m dari bangunan tua yang sudah lama tidak dipake. Saya ngejongkok di posisi saya ngedorong terakhir tadi ban. Keadaan di dalam mobil? Histeris! Haha. Bayangin kalo rem nya gagal ditari sama si lumba-lumba, bisa mati gaya Blue nubruk bangunan tua.

Blue tetap ngambek. Akhirnya saya minta ditemani Chandra mencari jalan ke arah kiri parkiran karena setiap dibelokkan ke kanan Blue langsung mati. Kami berdua berjalan memecah gelapnya malam itu dengan ketar-ketir. Kami melewati bangunan super lama yang sudah lama tidak difungsikan. Ini mengerikan. Seperti film-film horor. Seperti syuting film Friday the 13th. Dan syukurlah kami menemukan jalan. Saya dan Chandra pun kembali ke parkiran dan kita lewat kiri parkiran. Mungkin kami satu-satunya pengunjung yang melewati jalan ini. haha.

Dan saya mendapat teman baru. Sissy. Dia menemani perjalanan pulang kami. sahabat baru kami yang menyelamatkan kami dengan menuntun saya dengan cahaya birunya berjalan menuju ke kiri parkiran. Dan akhirnya kami menemukan jalan pulang. Dengan lega, kami mengendarai Blue dengan hati suka cita dan mata ngantuk.

Kami memutuskan untuk bermalam di jalan. Di dalam Blue. Menidurkan badan yang tidak santai daritadi. Bunda dan Meidi tertidur dengan nyenyak. Chandra tertidur lebih nyenyak. Dan saya? tidak bisa tidur. Hehe. Jam 5 pagi, seingat saya saat itu, kami melanjutkan perjalanan pulang menuju Jember.

Saya, Bunda dan Chandra berjanji akan kembali kesana tahun depan, untuk Jazz Gunung 2014. Saya dengan senang hati mengiyakan. Tapi saya mau hanya bertiga. Hehe. *ngeselin ya* Semoga bener-bener bisa ada disana tahun depan. Amin. TAPI PERSONEL TETAP LOOO. Boleh personelnya nambah tapi khusus kesayangan-kesayangan saya saja. :p

Salam dari JAZZ GUNUNG 2013 :)

Bye!

Thursday, 31 January 2013

congraduation RISKA WARDHANIYATI


Sekitar awal november tahun lalu saya kedatangan tamu istimewa di kosan. Teman dari kosan lama saya. Namanya RISKA tapi saya akrab dengan panggilan IIK. Jauh ya nama panggilannya?! Gapapalah, daripada ketuker manggilnya, dulunya ada dua nama Riska di kosan lama, jadilah 1 harus dikorbankan untuk berubah nama. Dan iik yang kudu berubah, alhamdulillah kehidupannya jauh lebih baik setelah berubah nama. Nama panggilan itu saya lo yang kasih, dan sampai sekarang dia akrab dengan panggilan Iik tadi.

Perempuan kecil ini merantau ke Jawa, jauh-jauh dari Aceh untuk jual diri. Eh engga ding, untuk kuliah di jurusan tekhnologi hasil pertanian. Niatnya mau mengolah hasil pertanian utama di Aceh untuk jadi keripik kaya di Malang. Keripik ganja. Dan yang lebih inovatif lagi, dia mau bikin dodol ganja salut coklat. Mahadahsyat! Tapi dia cocoknya jadi anak FKG, abisnya dia kenal hampir semua anak FKG angkatan saya karena keseringan saya ajakin ikut kumpul angkatan. FKG wannabe :D



Iik sudah hampir 3 bulan pulang kampung, tapi harus kembali ke Jawa buat ngurusin prosesi wisuda dan ngurus segala surat-menyurat. Kuliahnya sudah selesai tapi dia ngganggur 4 bulanan lah untuk menunggu giliran wisuda. Karena Iik udah engga ngekos, jadilah dia numpang di kosan saya pas wisuda’an itu. hampir 1 bulan saya dan Iik hidup bersama dalam 1 atap namun kami belum juga dikaruniai momongan. Astagfirullah.



4 tahun yang lalu, saya dan Iik tinggal di 1 kosan yang sama, Jln. Batu Raden no. 14. Iik adalah salah satu penghuni kosan yang paling dekat dengan saya. nyaman untuk bercerita apapun ke Iik. Saya lebih sering menghabiskan waktu di kamar iik dibandingkan di kamar saya sendiri. Selain karena kamarnya rapi, orangnya juga seru banget diajakin ngobrol. Baru dapet setengah tahun, Iik memutuskan untuk pindah. Alasannya karena ibu kos kami yang dulu itu bau badannya menggemparkan dunia. Selain itu karena jam malam yang sangat-sangat ketat sedangkan kegiatan Iik di dominasi kegiatan ekstra yang membutuhkan waktu ekstra pula. akhirnya Iik pindah, dan 2 tahun kemudian saya mengikuti jejak Iik. Dan jadilah kami jarang bertemu dan berkomunikasi. Yah layaknya suami istri yang pisah ranjang lah.




Selama satu bulan bersama Iik banyak saya habiskan dengan bercerita sepanjang malam, nostalgila abis! Banyak kegiatan jalan-jalan di akhir pekan yang kami lakukan bersama. Yang paling menyenangkan ya main arung jeram di Songa :D Kegiatan kami memang monoton tapi tidak pernah terasa membosankan. Mendekam di kamar kosan seharianpun pernah kami lakukan. Haha. Ada yang membuat Iik betah juga di kosan, karena ada si kucing abu-abu nan unyu, si Nala, Poppy, dan Rocky. Setiap hari kerjaannya Nala nggoser-nggoserin kepala ke Iik. Iik yang awalnya takut kucing jadi seneng ama kucing. Bahkan dia berniat buka pet shop di Aceh nantinya. Semoga beneran terwujuuuuuud :D




Akhirnya hari wisuda Iik dateng juga. Saya sempet lho berdoa supaya hari wisudanya dimundurkan, supaya waktu bersama saya dan iik masih panjang. Dan ternyata Tuhan tidak mengabulkan. Ya kali Tuhan mau mengabulkan doa satu orang dan mengecewakan ribuan orang. Bisa digetok Tuhan kepala saya. Ahahaha. Dan dengan sedihnya saya datang ke acara wisuda iik. Hanya satu tujuan, foto bareng! Sungguh narsis sodaraaaa -____-“



1 minggu setelah wisuda Iik harus kembali ke Aceh. Dan kemungkinan kembali ke tanah Jawa 0,0005%. Yah, bisa dibayangkan deh sedihnya saya ditinggalin sahabat yang paling pengertian di muka bumi ini dan kami hanya akan bertemu di line telpon. Nyesek! Saya peluk kuat-kuat si anak kecil hitam dan berjerawat ini.



Dear, Iik.
Selamat atas wisudanya. Selamat sudah mendapat nilai IPK yang sangat memuaskan. Dan selamat menempuh kehidupan yang sebenarnya setelah lepas dari bangku perkuliahan. Terima kasih untuk asam manis pertemanan yang tercipta 4 tahun terakhir ini. Aku tidak akan pernah lupa kamu, janji. Doakan supaya aku bisa main ke Aceh ya Ik. I miss you :* 

Saturday, 26 January 2013

SongAdventure

Selamat Pagi !

Saya mau berbagi cerita nih. Tanggal 16 November 2012, saya bersama 4 teman perempuan saya mengisi waktu liburan dengan bermain arung jeram di Songa, Probolinggo. Itu looo, yang punya nya alm. Aji Masa’id. Kalo ditempuh dari Jember menggunakan motor menghabiskan waktu 2 jam. Ya lumayan bikin boyok yang sudah termakan usia ini encok pegel linu. Karena untuk transportasinya saja pulang pergi kita membutuhkan waktu 4 jam. Ah Songa, seandainya lokasimu tidak segitu jauhnya pasti tiap mandi pagi sama sore saya akan mandi disana.

Tidak ada satupun dari kami yang sudah pernah kesana. Ini membuat kami semacam Dora the Explorer, setiap ada orang yang wajahnya menyerupai peta maka akan kami interogasi. Dan setelah bertanya-tanya pada 100 audience, survey membuktikan bahwa Songa ini terbagi menjadi 2 lintasan jeram. Jeram atas yang panjangnya 10km dan jeram bawah 7km. Kami memutuskan untuk menuju jeram atas saja karena menurut beberapa orang yang kami tanyai, jeram atas itu pemandangannya jauh lebih bagus.

Datang disana kami disambut dengan hangat oleh pegawai Songa. Kami disuguhi welcome drink berupa teh botol sosro. Alhamdulillah, rejeki anak solehah. Secara selama perjalanan dari Jember menuju Probolinggo kami tidak sempat jajan ataupun minum. Kita dijelaskan mengenai keunikan Songa, rute yang akan kami tempuh dan yang terakhir mengenai biaya. Biaya yang kami keluarkan untuk setiap kepala sebesar Rp. 190.000. dan kami langsung mendapatkan jatah air mineral botolan untuk bekal selama berarung jeram.

Pembayaran telah kami lakukan dan sekarang saatnya memilih perangkat bertempur! Kecekatan kami menyerupai berburu baju diskonan di matahari. Haha. Kami harus memilih:
  1. helm pelindung yang paling kece dan kekinian
  2. jaket pelampung yang terbuat dari bulu domba liar sumbawa
  3. dayung yang minimal mampu membawa kami sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui

kami sudah siap menjadi anak gewl kekinian
Setelah kami siap tempur berikutnya kami dipersilahkan memilih guide. Dengan semangat berkobar-kobar kami sudah merencanakan memilih guide yang minimal ketampanannya sama dengan Vino G. Bastian. Namun semua hanya tinggal angan belaka. Haha. Diujung kegalauan mencari guide, pelabuhan terakhir kami bernama Mas Yanto.
mas yanto yang super duper sabar
Untuk menuju ke starting point arung jeram kami diangkut menggunakan mobil bak terbuka. Waktu yang dibutuhkan kira-kira 15 menit. Kemudian kami masih harus berjalan kaki sedikit menuju tepi sungai Pekalen, sungai tempat kami akan menghabiskan energi. Setelah semua rombongan terkumpul, kami melakukan briefing. Apa yang harus kami lakukan saat berada diatas perahu karet super unyu itu saat guide menginstruksikan aba-aba tertentu adalah inti dari briefing kali ini. insyaAllah kami paham. Petualangan dimulai!
Goa Kelelawar. Spot terkece dan terbau. bau eek kelelawar
Dayung yo dayung!

Jangan iri dengan foto-foto saya selama arung jeram ya! Segera coba sendiri sensasinya, benar-benar mengesankan. Tidak ada kata menyesal sekalipun energi kami terkuras habis-habisan. Jangan khwatir untuk yang tidak bisa berenang karena saya juga tidak bisa berenang dan alhamdulillah bisa hidup hingga detik ini. haha. Jaket pelampung adalah jawaban dari segala kegundahan manusia yang memiliki ambisi besar untuk bermain arung jeram namun tidak bisa berenang.

saya panik! haha
Sesampainya di pondok Songa, kami sudah disambut makanan khas Jawa Timur. Menunya adalah nasi jagung, urap-urap, sambel terasi, tempe tahu, daging goreng, ikan asin, dan air putih. Semua dilalap habis dalam waktu sekejap. Kami kelaparan! Sungguh ini menu pemadam kelaparan yang tepat sekali. Haha. Setelah makan kami memutuskan langsung pulang walaupun hari sudah mulai gelap. Jika kita ingin menginap, disini juga disediakan semacam cottage yang dibanderol per kepala Rp. 50.000.

agak blur fotonya. yang motoin rada ga ikhlas :p

Terimakasih Songa untuk pengalaman serunya. SONGADVENTURE :)

Friday, 7 December 2012

Bedah Mulut Maut

Setelah melalui 2 putaran klinik di klinik-klinik minor, kini tiba saatnya klinik mayor menghampiri saya. klinik mayor memang terkenal horor karena banyak sekali menjegal koass gigi buat lulus. Ada aja alasan yang membuat koass gigi “betah” berlama-lama disana. Requirement yang jumlahnya ga wajar adalah alasan utamanya. Target yang harus dipenuhi buat lulus itu semacam ga mungkin buat dikejar (koass-koass yang malas). Tapi ga sedikit juga kok temen-temen koass yang melalui putaran klinik dengan lancar jaya log jinawi, nanti saya bakal ke mereka pake dukun dari mana. ampuh banget jampi-jampinya. HAHA.

Klinik mayor yang harus saya tempuh adalah Bedah Mulut (BM). Bedah Mulut adalah salah satu cabang keilmuan dokter gigi yang isinya meliputi cara-cara mendiagnosis, melakukan tindakan bedah, dan merawat penyakit atau luka atau kelainan rahang dan yang berhubungan dengan struktur yang ada di sekitarnya (*tutup dulu buku contekannya). Gampangannya sih, saya ini masuk klinik mayor yang urusannya cabut-cabut gigi. Cukup mengerikan buat koass-koass baru yang kerjaan di klinik sebelumnya cuman haha-hihi doang dan sekarang disuruh megang tang terus nyabut gigi orang. Awas nyawanya aja sih yang kecabut.
Sewajarnya klinik mayor lainnya, BM ini akan saya tempuh selama 2 bulan dengan pengalaman mencabut pasien 0%. Bayangkaaaaaan! *keringet dingin.

BM ini klinik yang istimewa, soalnya dengan kerjaan yang ngerinya tingkat dewa, hadir disitu dosen-dosen super kece dari seluruh penghujung dunia. Mereka adalah dosen-dosen yang jauh dari kata curang, menganakemaskan salah satu koass, ataupun ga profesional. Mereka semuanya KECE! Walau ada satu dosen yang agak resek. Ya anggaplah dia batu kerikil (berukuran raksasa) yang banyak bikin koass ga lulus BM.

contekan andalan anak BM. maaf kami lemah masalah diagnosa..
Klinik BM ini sangat mengutamakan kerjasama. Koass ga bakal bisa kerja cabut kalo misalnya tidak ada kejasama yang baik antar koass karena saat kerja cabut harus ada asisten yang membantu kita mengambil alat dan mengurus segala tetek bengek proses pencabutan. Jangan harap bakal ada yang bantuin kalo sendirinya ga pernah ngebantuin orang lain. Selamat menganggur dengan indah!

minuman wajib koass BM. es teh di ruang kantin BM. siap siap tipes  :))
partner diskusi kasus! diskusi dengan prof membuat kami galau ..
Banyak hal-hal kocak di BM ini yang saya lalui bersama temen-temen koass seperjuangan lainnya. Waktu itu pernah nih saya dapet pasien kasus abses. Istimewanya adalah pasien ini datang ke RSGM sendiri tanpa diantar ataupun dijemput. Ya ga beda jauh sama jelangkung lah. dan cari pasien yang semacam ini adalah SUSAH! Yang ada sih biasanya koass yang ribet anter jemput pasien. Nah ini surga banget dapet yang bisa dateng sendiri. Anak keluarga Bali yang berdomisili di Jember, sebut saja namanya Puja. Perempuan berusia 12 tahun ini memiliki perawakan semacam gadis berusia 20 tahun saking bongsornya -____-“

Dalam mengerjakan pasien kasus, seorang koass harus bekerja sama dengan 2 koass lainnya. Jadi saya mengerjakan kasus ini bersama dengan Arum dan Alfan. Semua berjalan baik-baik saja awalnya. Melakukan pemeriksaan, menentukan diagnosa kemudian rencana perawatan. Semua menjadi bencana saat tindakan pencabutan gigi atau bahas BMnya “exo”. Karena ini pasien anak-anak, si Puja semacam sangat takut dan mulai menunjukkan air matanya waktu proses anestesi. Dan si Puja berubah menjadi Hulk saat proses pencabutan dilakukan oleh Alfan. Puja menangis begitu kencangnya dan semua koass mulai hebring karena ada suara tangisan Puja yang menggelegar. Dan tangisan Puja membuat Alfan menyerah. Laporlah kami ke dosen pembimbing kami, drg. Zainul Cholid, Sp. BM. Alfan melapor kejadian yang kami alami.


“dok, pasiennya menangis dok. Sakit katanya. Anastesinya tidak bekerja dok sepertinya.”
“kok iso?”
“ada absesnya dok, jadi anestesi tidak jalan.”
“koyo bencong ae kon. Nyabut arek cilik ae ga isok. Yo, aku maringene mrono”
“baik dok”


Puja masih menangis tersedu-sedu dan koass lainnya masih mengerubungi kami, datanglah dokter Zainul. Dan tangisan si Puja semakin pecah membahana. Dokter Zainul semacam kesel melihat tingkah Puja. Tapi beliau berusaha menahan. Namanya juga anak-anak.


“ayo puja, buka mulutnya.”
Puja menggeleng dan semakin merapatkan mulutnya.
“ayolah Puja, buka ya. Biar ga sakit. Pak dokter cabut sebentar”
Puja akhirnya mengangguk dan prose pencabutan dimulai lagi. Dan 2 detik kemudian ...
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Puja histeris lagi.
“ayo Puja, baca bismillah dulu. Ayo BIS .. MI ..” dengan terus berusaha mencabut gigi puja
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.”
“ayo Puja. Bismillah dulu, nanti giginya gamau keluar lo.”
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.”
“BIS .. MI ..”


Saya, Alfan dan Arum saling berpandangan. Antara kahawatir dan ingin tertawa. Puja beragama Hindu dan dengan sekuat tenaga drg. Zainul membimbing Puja untuk berkata Bismillah. Dan saya memberitahu lirih drg. Zainul bahwa Puja seorang Hindu.


“dok, maaf dok. Pasien saya Hindu dok. Jadi ndak ngerti bismillah”
drg. Zainul pun langsung salah tingkah. 
“alhamdulillah, gigi puja sudah keluar. Puji Tuhan Puja, kuch-kuch hota hai”
... kemudian hening


Dan saya selalu ngakak setiap inget kejadian ini. lucu banget tingkah drg. Zainul. Semua dosen BM rata-rata berwajah seram, namun saat sudah terjun bersama koass-koass seramnya langsung hilang. Tetiba jadi friendly. Haha.

Requirement di BM ini ada 22 kali tindakan cabut, 9 kali diagnosa, 3 pasien kasus, 2 tindakan bedah gigi geraham bungsu (odontektomi) dan beberapa requirement kecil lagi yang saya sudah tidak bisa mengingatnya. Pasien kasus ini hanya orang-orang beriman tingkat kabupaten yang bisa mendapatkannya dengan cuma-cuma dan segera. Susah bener cari pasien kasus karena kadang tuh pasien kasus hari ini bengkak, besok waktu mau diperiksa, bengkaknya udah ilang. Errrrrrrrrr. *bunuh diri pake sonde.

Pasien cabut pertama saya adalah Pak Ojek di Stasiun Jember. Dan saya gagal mencabut gigi Pak Ojek tersebut saking susahnya kasus tersebut dan saya diselematkan oleh dosen-dosen BM yang kece itu. Alhamdulillah untuk cabutan selanjutnya saya lancar-lancar aja. cuman yang bikin ga lancar adalah jumlah pasien yang terbatas. Mencari pasien cabut itu susahnya setengah mati deh. seriusan! Ada banyak mitos salah yang beredar di masyarakat, jadinya buat cari pasien cabut tuh semacam ngotot mau mindahin kuda nil yang gagal diet. Takut buta, takut ga bisa mangaplah, takut inilah, takut itulah, dan akhirnya saya cuman cabut 18 apa 19 gitu .. dan saya menyerah ga cari pasien lagi, ga sanggup capeknya. Dan ini berujung pada ...
Engga lulus BM ... bahkan saya sempet masuk rumah sakit gegara demam tinggi sepulang kerja klinik sama drg. Budi Sumarsetyo dan diomelin gegara saya ga tuntas waktu nyabut gigi pasien saya. 2 hari 2 malam terkapar di rumah sakit saking stressnya diomelin ama drg. Budi Sumarsetyo.

PTP jayaaa! 
akar kegagalan :)) awal mula dari keberhasilan :))
Sedih ...
Hanya sesaat! Dan sekarang sudah bangkit lagi! Saya siap ngulang BM putaran depan dan saya HARUS LULUS! Biar ga kebanyakan minum es teh botol yang dijual ama Mas Yuli penjaganya klinik BM. Hehe.
Hey, Bedah Mulut Maut tunggu saya! Nanti saya akan datang dengan kekuatan super! :))