Setelah melalui 2 putaran klinik di klinik-klinik minor, kini tiba saatnya klinik mayor menghampiri saya. klinik mayor memang terkenal horor karena banyak sekali menjegal koass gigi buat lulus. Ada aja alasan yang membuat koass gigi “betah” berlama-lama disana. Requirement yang jumlahnya ga wajar adalah alasan utamanya. Target yang harus dipenuhi buat lulus itu semacam ga mungkin buat dikejar (koass-koass yang malas). Tapi ga sedikit juga kok temen-temen koass yang melalui putaran klinik dengan lancar jaya log jinawi, nanti saya bakal ke mereka pake dukun dari mana. ampuh banget jampi-jampinya. HAHA.
Klinik mayor yang harus saya tempuh adalah Bedah Mulut (BM). Bedah Mulut adalah salah satu cabang keilmuan dokter gigi yang isinya meliputi cara-cara mendiagnosis, melakukan tindakan bedah, dan merawat penyakit atau luka atau kelainan rahang dan yang berhubungan dengan struktur yang ada di sekitarnya (*tutup dulu buku contekannya). Gampangannya sih, saya ini masuk klinik mayor yang urusannya cabut-cabut gigi. Cukup mengerikan buat koass-koass baru yang kerjaan di klinik sebelumnya cuman haha-hihi doang dan sekarang disuruh megang tang terus nyabut gigi orang. Awas nyawanya aja sih yang kecabut.
Sewajarnya klinik mayor lainnya, BM ini akan saya tempuh selama 2 bulan dengan pengalaman mencabut pasien 0%. Bayangkaaaaaan! *keringet dingin.
BM ini klinik yang istimewa, soalnya dengan kerjaan yang ngerinya tingkat dewa, hadir disitu dosen-dosen super kece dari seluruh penghujung dunia. Mereka adalah dosen-dosen yang jauh dari kata curang, menganakemaskan salah satu koass, ataupun ga profesional. Mereka semuanya KECE! Walau ada satu dosen yang agak resek. Ya anggaplah dia batu kerikil (berukuran raksasa) yang banyak bikin koass ga lulus BM.
![]() |
| contekan andalan anak BM. maaf kami lemah masalah diagnosa.. |
![]() |
| minuman wajib koass BM. es teh di ruang kantin BM. siap siap tipes :)) |
![]() |
| partner diskusi kasus! diskusi dengan prof membuat kami galau .. |
Banyak hal-hal kocak di BM ini yang saya lalui bersama temen-temen koass seperjuangan lainnya. Waktu itu pernah nih saya dapet pasien kasus abses. Istimewanya adalah pasien ini datang ke RSGM sendiri tanpa diantar ataupun dijemput. Ya ga beda jauh sama jelangkung lah. dan cari pasien yang semacam ini adalah SUSAH! Yang ada sih biasanya koass yang ribet anter jemput pasien. Nah ini surga banget dapet yang bisa dateng sendiri. Anak keluarga Bali yang berdomisili di Jember, sebut saja namanya Puja. Perempuan berusia 12 tahun ini memiliki perawakan semacam gadis berusia 20 tahun saking bongsornya -____-“
Dalam mengerjakan pasien kasus, seorang koass harus bekerja sama dengan 2 koass lainnya. Jadi saya mengerjakan kasus ini bersama dengan Arum dan Alfan. Semua berjalan baik-baik saja awalnya. Melakukan pemeriksaan, menentukan diagnosa kemudian rencana perawatan. Semua menjadi bencana saat tindakan pencabutan gigi atau bahas BMnya “exo”. Karena ini pasien anak-anak, si Puja semacam sangat takut dan mulai menunjukkan air matanya waktu proses anestesi. Dan si Puja berubah menjadi Hulk saat proses pencabutan dilakukan oleh Alfan. Puja menangis begitu kencangnya dan semua koass mulai hebring karena ada suara tangisan Puja yang menggelegar. Dan tangisan Puja membuat Alfan menyerah. Laporlah kami ke dosen pembimbing kami, drg. Zainul Cholid, Sp. BM. Alfan melapor kejadian yang kami alami.
“dok, pasiennya menangis dok. Sakit katanya. Anastesinya tidak bekerja dok sepertinya.”
“kok iso?”
“ada absesnya dok, jadi anestesi tidak jalan.”
“koyo bencong ae kon. Nyabut arek cilik ae ga isok. Yo, aku maringene mrono”
“baik dok”
Puja masih menangis tersedu-sedu dan koass lainnya masih mengerubungi kami, datanglah dokter Zainul. Dan tangisan si Puja semakin pecah membahana. Dokter Zainul semacam kesel melihat tingkah Puja. Tapi beliau berusaha menahan. Namanya juga anak-anak.
“ayo puja, buka mulutnya.”
Puja menggeleng dan semakin merapatkan mulutnya.
“ayolah Puja, buka ya. Biar ga sakit. Pak dokter cabut sebentar”
Puja akhirnya mengangguk dan prose pencabutan dimulai lagi. Dan 2 detik kemudian ...
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.” Puja histeris lagi.
“ayo Puja, baca bismillah dulu. Ayo BIS .. MI ..” dengan terus berusaha mencabut gigi puja
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.”
“ayo Puja. Bismillah dulu, nanti giginya gamau keluar lo.”
“aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.”
“BIS .. MI ..”
Saya, Alfan dan Arum saling berpandangan. Antara kahawatir dan ingin tertawa. Puja beragama Hindu dan dengan sekuat tenaga drg. Zainul membimbing Puja untuk berkata Bismillah. Dan saya memberitahu lirih drg. Zainul bahwa Puja seorang Hindu.
“dok, maaf dok. Pasien saya Hindu dok. Jadi ndak ngerti bismillah”
drg. Zainul pun langsung salah tingkah.
“alhamdulillah, gigi puja sudah keluar. Puji Tuhan Puja, kuch-kuch hota hai”
... kemudian hening
Dan saya selalu ngakak setiap inget kejadian ini. lucu banget tingkah drg. Zainul. Semua dosen BM rata-rata berwajah seram, namun saat sudah terjun bersama koass-koass seramnya langsung hilang. Tetiba jadi friendly. Haha.
Requirement di BM ini ada 22 kali tindakan cabut, 9 kali diagnosa, 3 pasien kasus, 2 tindakan bedah gigi geraham bungsu (odontektomi) dan beberapa requirement kecil lagi yang saya sudah tidak bisa mengingatnya. Pasien kasus ini hanya orang-orang beriman tingkat kabupaten yang bisa mendapatkannya dengan cuma-cuma dan segera. Susah bener cari pasien kasus karena kadang tuh pasien kasus hari ini bengkak, besok waktu mau diperiksa, bengkaknya udah ilang. Errrrrrrrrr. *bunuh diri pake sonde.
Pasien cabut pertama saya adalah Pak Ojek di Stasiun Jember. Dan saya gagal mencabut gigi Pak Ojek tersebut saking susahnya kasus tersebut dan saya diselematkan oleh dosen-dosen BM yang kece itu. Alhamdulillah untuk cabutan selanjutnya saya lancar-lancar aja. cuman yang bikin ga lancar adalah jumlah pasien yang terbatas. Mencari pasien cabut itu susahnya setengah mati deh. seriusan! Ada banyak mitos salah yang beredar di masyarakat, jadinya buat cari pasien cabut tuh semacam ngotot mau mindahin kuda nil yang gagal diet. Takut buta, takut ga bisa mangaplah, takut inilah, takut itulah, dan akhirnya saya cuman cabut 18 apa 19 gitu .. dan saya menyerah ga cari pasien lagi, ga sanggup capeknya. Dan ini berujung pada ...
Engga lulus BM ... bahkan saya sempet masuk rumah sakit gegara demam tinggi sepulang kerja klinik sama drg. Budi Sumarsetyo dan diomelin gegara saya ga tuntas waktu nyabut gigi pasien saya. 2 hari 2 malam terkapar di rumah sakit saking stressnya diomelin ama drg. Budi Sumarsetyo.
![]() |
| PTP jayaaa! |
![]() |
| akar kegagalan :)) awal mula dari keberhasilan :)) |
Hanya sesaat! Dan sekarang sudah bangkit lagi! Saya siap ngulang BM putaran depan dan saya HARUS LULUS! Biar ga kebanyakan minum es teh botol yang dijual ama Mas Yuli penjaganya klinik BM. Hehe.
Hey, Bedah Mulut Maut tunggu saya! Nanti saya akan datang dengan kekuatan super! :))























