Alhamdulillah.
Akhirnya.
Irma.
Yunita.
Jadi.
Dokter Gigi
.
Maaf ya, bukannya mau pamer atau
sok-sokan gitu. Ini merupakan dampak saking girangnya saya setelah melihat
pengumuman hasil Ujian Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (UKDGI) di website
Kolegium Kedokteran Indonesia (KKI). Pengumuman ditengah-tengah waktu saya jaga
poli gigi yang menyatakan bahwa “drg. Irma Yunita telah KOMPETEN”.
Alhamdulillah. Sepanjang perjalanan pulang kerja
saya bernyanyi dengan girangnya. Lagu wouldn’t it be nice-nya beach boys
mengiringi kebahagiaan saya malam itu. ini adalah salah satu moment terindah
dalam hidup saya. ini cita-cita saya. untuk mencapai hal ini saya akui tidak
mudah. Saya menghabiskan waktu selama 6 tahun lamanya. Dan akhirnya gelar
dokter gigi bisa saya sandang. Alhamdulillah.
6 Tahun yang lalu, entah tepatnya
tanggal berapa di bulan Agustus 2008 saya terdaftar sebagai mahasiswa
Kedokteran Gigi Universitas Jember. Pertama kalinya saya hidup terpisah dengan
orang tua dan berperan sebagai mahasiswa baru yang baru merasakan pedihnya
hidup nge-kos. Banyak cerita lucu jaman MABA terutama ketika menjalani
Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru (PK2 MABA) atau yang lebih akrab
kita sebut dengan OSPEK.


Saat menjadi peserta PK2 MABA
yang kala itu dinamai “OCCLUSAL” rasanya selalu ingin menggerutu dengan
tugas-tugas yang diberikan kakak-kakak pendamping. Setiap berangkat OCCLUSAL
bawaannya bukan roti sekeranjang, tapi deg-degan segunung. Kami dikenalkan
dengan berbagai istilah medis yang berhubungan dengan kedokteran gigi yang
sangat asing di telinga kami. secara naluriah hal yang asing akan susah diterima
oleh ingatan kita dan hal inilah yang dimanfaatkan oleh kakak-kakak pendamping.
Setiap pagi sebelum memulai OCCLUSAL
akan ada password yang harus kita
hafalkan dan itu sangat menyiksa (ex: meatus
acuticus externus). BHAY! Sudah dapat dipastikan kalo akan terjadi 1675
kesalahan penyebutan password tersebut.



Kehidupan setelah PK2 MABA
dimulai setelah 9 atau 10 kali pertemuan OCCLUSAL kami rampungkan. Ternyata apa
yang dilakukan kakak pendamping OCCLUSAL tidak hanya untuk menyiksa kami
semata. Kerasnya kehidupan kampus sudah pernah dikenalkan kepada saya saat
menjalani OCCLUSAL, jadi sudah ada kata “maklum” di dalam otak saat satu demi
satu penyiksaan perkuliahan saya rasakan.
Kegiatan MABA FKG itu padat.
Tidak hanya kuliah, tetapi ada tutorial alias diskusi bersama, preklinik,
praktikum, tugas dan sebagainya. Belum lagi diakhir masa perkuliahan kami harus
menyusun skripsi yang berbarengan dengan kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN). Dua
kegiatan yang sangat bersebrangan, KKN yang sangat menyenangkan karena diisi
dengan haha hihi tak jelas arah dan skripsi yang memeras otak dan hati. Dengan
semangat yang semakin memudar, saya berusaha menyelesaikan skripsi saya. demi
wisuda tepat waktu!
Pada tanggal 17 Maret 2012 Alhamdulillah
saya bisa wisuda. Tepat 3.5 tahun pendidikan, gelar Sarjana Kedokteran Gigi
(S.Kg) tersemat dibelakang nama saya. perjuangan panjang berliku akhirnya
berbuah manis.
“WELCOME TO THE JUNGLE, ya Dek” ucap kakak-kakak yang menyalami saya
saat wisuda. Setelah wisuda, tahapan yang harus saya jalani untuk mendapat
gelar dokter gigi adalah Profesi Dokter Gigi atau yang lebih merakyat dengan
sebutan “Klinik”. Nah siksaan akan lebih nyata saat kita menempuh jenjang
profesi ini. namun pernyatan “welcome to
the jungle” bukan isapan jempol belaka. Klinik memang benar-benar hutan
belantara super liar yang harus ditakhlukan! Kita berperan sebagai monyet yang
baru di release di hutan setelah
direhabilitasi. Dan dosen-dosen pembimbing adalah hewan buas pemangsa.
Ahaahaha, analogi yang berlebihan tetapi hampir sesuai kenyataan.


Stase-stase yang harus kami lalui
ada 10 stase. (1). Periodonsia; (2). Oral
Medicine; (3). Bedah Mulut; (4). Prostodonsia; (5). Konservasi; (6). Ortodonsia;
(7). Pedodonsia; (8). Public Health;
(9). Ilmu Kesehatan Klinis; (10). Integrasi. Setiap stase memiliki requirement yang sudah siap menjegal
langkah saya untuk lulus cepat. Dalam proses saya menempuh profesi saya
mengalami kegagalan menakhlukan keganasan klinik Bedah Mulut, Konservasi dan
Pedodonsia. Telak sekali FKG merenggut masa muda saya yang seharusnya saya isi
dengan goler-goler di pinggir pantai. Haha.



Saya menempuh seluruh stase
tersebut 2 tahun (yang seharusnya 1.5 tahun) dengan perjuangan yang setengah
hidup. Sesungguhnya kehidupan Klinik memang begitu kejam. Penderitaan saya
masih belum berakhir, Bung! Saya masih dinanti oleh Ujian Komprehensif atau
kalau jaman dulu dibilangnya Ujian Profesi (UP) yang merupakan ujian pamungkas
yang bersifat lokal. Ujian Kompre ini adalah ujian yang benar-benar membuat
saya down karena saya harus mengulang
sebanyak 3 kali untuk bisa melaluinya. Untungnya saya selalu didampingi oleh
sahabat-sahabat saya untuk melalui ujian yang sungguh AS*HOLE ini.
Ujian Komprehensif yang pedih
akhirnya sudah berlalu dan ada satu ujian pamungkas lagi yang bersifat
Nasional, yaitu Ujian Kompetensi Dokter Gigi Indonesia (UKDGI) yang
dilaksanakan tanggal 15 Agustus 2014. Ini ujian yang benar-benar mengerikan
karena ini diawasi dari pusat menggunakan CCTV yang berada di seluruh penjuru
negeri. UKDGI terdiri dari OSCE (Objective
Structure Clinical Examination) dan CBT (Computer Based Training). Istilah gampangnya satu ujian tulis dan
satunya ujian lisan. Ah sungguh ujian ini bikin saya stress bingit.
Akhirnya SUMPAH DOKTER GIGI! Saya
kloter terakhir mahasiswa profesi dokter gigi yang boleh mengikuti penyumpahan
walaupun belum melaksanakan UKDGI. Setelah saya, peraturannya berubah.
Penyumpahan hanya boleh diikuti mahasiswa profesi dokter gigi yang sudah
dinyatakan LULUS UKDGI. Bersyukur deh saya masih ikut peraturan lama karena
peraturan baru tersebut menambah lama masa studi. Semoga peserta penyumpahan
setelah saya dibesarkan pantatnya dan dilapangkan hatinya untuk mengikuti
peraturan pemerintah yang baru. Aamiin.
Sumpah Dokter Gigi ke-72
rencananya akan diselenggarakan 15 Juli 2014 dimana akan dilaksanakan ketika
kami menjalankan ibadah puasa ramadhan. Jadi agak ribet ngurusin konsumsi yang
sekiranya kaga bas kalo dimakan sore. Peserta penyumpahan kali ini bener-bener
irit, hanya 14 orang saja. Ternyata acara penyumpahan ini tidak se-simple yang saya perkirakan. Kami harus menyiapkan
segala-galanya sendiri mulai dekor, vandel, buku kenangan, cinderamata, kostum
untuk pre sumpah, konsumsi beserta tetek bengeknya. Untung ya peserta
penyumpahan 72 ini kompaknya ga ketulungan. Kapten dari penyelenggaraan sumpah
ini adalah Mas Erwin. Kami menikmati segala keribetan yang tercipta sebelum
sumpah digelar, termasuk foto pre sumpah yang sangat menyita tenaga. Ternyata
menjadi model itu tidaklah mudah! CAPEK!!




15 Juli 2014 saya rela bangun jam
3 pagi demi tampil “tidak biasa” di acara penyumpahan. Saya memilih penata rias yang mendandani Rosita kala dia sumpah
lalu. Yongki Wardhana namanya. Galerinya cukup jauh namun saya rela menembus
subuh bersama Wakjo. Eh bersama Rosita juga yang saya mintai tolong untuk
mengabadikan momen dandan-mendandani ini. haha. Dan ternyata hasilnyaaaa ...
Setelah dandan cantik dan unyu,
kami bergegas menuju tempat penyumpahan. Alhamdulillah belum terlambat dan kami
sempat berfoto-foto terlebih dahulu hingga puas. Hehe. Pukul 09.00 tepat acara
penyumpahan dimulai. Buset deh, belum apa-apa saya udah terharu aja, waktu
jalan menuju bu dekan untuk bersalaman. Merinding rasanya. Akhirnya saya bisa
memberi mami dan papi gelar di depan nama saya.





Histeria sumpah dokter segera
pupus, tergantikan dengan kepanikan UKDGI yang mendekat. Belajar mengerjakan
soal-soal tahun lalu saja sibuk diisi dengan membuka buku dan googling, gini mau UKDGI. BHAY!
Untungnya pihak fakultas mengadakan Try Out UKDGI. Baru TO aja udah ndredeg ga
karuan. Udah pada suntuk semua wajahnya. Seminggu setelah TO, UKDGI yang
sesungguhnya menyapa kami. peserta UKDGI kali ini berjumlah 43. Saking
banyaknya peserta UKDGI, waktu yang dibutuhkan semakin baaanyaaak (untuk OSCE).
Kami start pukul 07.00 dan baru boleh diijinkan meninggalkan ruang ujian
menjelang magrib. Segala bau ketek dan keringat mengumpul jadi 1 tak jelas
arah. Haha.
Pengumuman hasil Ujian dapat kami
terima sekitar 2 minggu setelah ujian. Bisa di cek secara online karena
ujiannya dilaksanakan serentak seluruh Indonesia kan. Dan setelah mengisi 2
minggu saya dengan merayu Tuhan agar meluluskan saya, akhirnya saya dinyatakan
lulus. KOMPETEN!!! Yeay!!! FKG UNEJ angka kelulusannya 90% lebih untuk CBT, dan
100% untuk OSCE. ALHAMDULILLAH :)