Saya ingin berbagi sedikit cerita nih. Sayang kalo engga di posting soalnya ini cerita tentang perjalanan yang super spektakuler. Takut lupa juga sih lebih tepatnya. Ingatan saya yang semacam ikan koki ini agak engga bagus menyimpan kisah seru semacam yang akan saya ceritakan ini.
Akhirnya saya pergi ke RANU KUMBOLO dong. Tempat yang menurut prediksi saya tidak mungkin saya datangi ternyata bisa juga saya jamah. Ini luar biasa. Luar biasa bikin remuk maksutnya. Hehe. Perjalanan ini tidak akan terjadi tanpa adanya pihak-pihak gila yang menjadi anggota RAKUM HORE ini, Ulin, Gattadah, Bob, Rosita, Pak Pik, Dhani, Faiz, Jane, Ririh, Samid, Wilda, Dila, dan Mas Wisnu yang mendukung penuh terjadinya perjalanan sengklek ini. hey RAKUM HORE, I heart You sooo much #kecupklomoh #kemudiangumoh
“Ulin, anterin aku ke ranu kumbolo sebelum aku lulus!”
“Oke Mak!”
Berbekal dialog itulah saya menagih si Ulin untuk mengantarkan saya ke Ranu Kumbolo. Jauh di dalam lubuk hati saya, saya ragu. Kuat apa engga jalan sejauh gitu tanpa ngerepotin orang. Kuat sih kuat, ngerepotin orangnya ini lo yang masih menjadi tanda tanya super besar. Dan sampailah di hari yang ditunggu-tunggu, selepas saya ujian komprehensif kedua, saya bersiap untuk perjalanan idaman ini. songong banget berangkat jalan-jalan padahal hasil ujian ulangnya aja gatau lulus apa engga. Dasar Irma #merutukidirisendiri.
Semakin mendekati hari keberangkatan semakin banyak teman-teman yang ingin Peserta perjalanan kali ini ada 14 orang. Maaf, anda kurang beruntung karena sudah menjadi korban menjadi partner saya jalan-jalan. Siap siap untuk saya repoti, rengekin, dan saya titipin barang bawaan saya. Selamat menikmati! Hehe
Perjalanan kali ini cukup berbeda, pergi ke Ranu Kumbolo bukanlah seperti pergi jalan-jalan ke matos. Jangan disamakan. Jadi berpakaianlah yang pantas. Pantas untuk hawa dingin dan pantas dilihat orang sekitar. Jangan karung goni dipakai tank top. Udah dingin, gatel pula. peringatan kedua, menginap di Ranu Kumbolo bukan seperti tidur di kamar hotel. Jangan disamakan. Jadi bawalah sleeping bag yang pas untuk ukuran badanmu. Jangan bed cover segede gaban dibawa. Belajar dari peringatan-peringatan itu saya membawa perlengkapan tempur sesuai dengan anjuran dan sesuai dengan SOP. Saya bertugas mengurusi barang sewaan semacam tenda, rantang-rantang buat masak di gunung yang saya lupa itu namanya apa, alas tidur, dan beberapa barang yang bentuknya pun saya engga tau tapi sama si Ulin disuruh nyewa. Astaga -_-“.
Ulin selaku pemimpin perjalanan ini briefing ke teman-teman dan sekaligus membagi barang bawaan kelompok masuk ke tas carrier yang mana. gila-gilaan seh si ulin nyiksa anak lelaki. Isi carrier mereka bisa sampe berpuluh-puluh kilogram. Gendeng. Kalo saya mah bisa sengklek tulang punggung. Hahaha. Lelaki malang yang tersiksa karena harus membawa berbagai macam benda di dalam carriernya adalah Gattadah si Arab Cina, Samid si bebeb medok, Faiz si manusia timur jadi-jadian, dan Dhani si Jason Mraz KW 5. Semangaaat kakak! Semoga tulang belakang kalian tidak melengkung seketika ya. Takutnya moro-moro meleot. Haha.
Tanggal 29 Mei 2014, pukul 14.00 (banyak lebihnya) kami berkumpul di kosan saya. semua barang di cek ulang sama Ulin dan barang bawaan di carrier saya banyak banget dikurangin sama Ulin, dipindah di carrier dia sama carrier Dhani. Semi kemaslahatan hidup saya katanya. Saya sungkan jadinya. Barang punya siapa, yang ngebawa siapa. Belom apa-apa udah ngerepotin. Buset. Setelah lengkap personelnya, kami semua bersiap untuk bertempur!! Bismillah.
Perjalanan Jember – Lumajang (Senduro) kami tempuh selama ± 2.5 jam. Sesampainya di Lumajang, kami menitipkan motor kami di parkiran 24 jam di pasar Senduro. Perjalanan dilanjutkan dengan menyewa mobil pick up dengan biaya sewa PP Rp. 700.000.- karena tidak memungkinkan perjalanan menggunakan motor. Perjalanan menuju kaki gunung Semeru (Ranu Pani) ini memerlukan waktu selama 1.5 jam. kenapa kok segitu mahalnya? Karena jalanan menuju Ranu Pani tidak semulus wajah Andika Kangen Band ya. Makadam membara broooo.
| tempat parkir penitipan sepeda motor 24 jam |
| pick up super kece yang kami tumpangi |
hari
semakin gelap dan kami masih harus memecah hutan diatas pick up. Kebayang
dinginnya kan?! Udah dasarnya saya ini seorang pemabuk, ditambah lagi cuaca
yang dingin, jadilah saya muntah sejadi-jadinya. Padahal udah deket. Gatau deh
kena orang apa engga itu muntahan saya. bagi yang tidak sengaja terkena
muntahan saya, saya minta maaf yaa #kemudian sungkem
Setibanya
di ranu pani, kami bermalam disini. Gelap gulita. Headlamp sebagai satu-satunya
sumber cahaya. Dan blitz kamera juga sih. Bermalam di tempat yang terbuka tanpa
ada penghalang angin adalah tindakan bunuh diri secara elegan. Sumpah ini
diiingiiin banget. melalui malam ini begitu laamaaaaaaaa. Mungkin karena
siksaan suhu yang berlebihan dinginnya ini ya -_-“ Ini bener-bener dingin. Kalo
ada yang bilang saya lebay, sini keteknya saya kasih lombok biar hangat.
| persahabatan bagai kepompong :) |
| para lelaki yang tangguh, tidur saling berpelukan -_-" |
Tempat
kami bermalam kemarin yang hanya gelap gulita kini berubah menjadi tempat yang
hangat dan sangat cantik. Terima kasih Tuhan untuk matahari yang bersinar dengan
teriknya.
| the beautiful Ranu Pani |
| 3 lelaki yang bawaannya subhanallah beratnya |
Sebelum
memulai perjalanan panjang menuju Ranu Kumbolo, semua peserta perjalanan di
briefing oleh pengelola wisata G. Semeru. Isi carrier kami di cek satu per satu
untuk memastikan kami bisa bertahan hidup di ranu kumbolo. Hal ini dilakukan
karena beberapa waktu yang lalu ada pengunjung ranu kumbolo yang ingin ke ranu
kumbolo tanpa membawa peralatan yang semestinya dan menggunakan sepatu yang
kewanitaan. Oh mai gaatt! BHAY! Setelah pengecekan barang bawaan beres,
perjalanan kami mulai. Mari melanjutkan petualangan!!
Menurut
peta yang saya lihat di ruangan pengelola G. Semeru saat briefing tadi, jarak
yang akan kami tempuh menuju Ranu Kumbolo adala 10.5 km yang terdiri dari 4
post peristirahatan. Sepertinya nanti akan saya rubah menjadi 1578 post
peristirahatan karena saking seringnya saya berhenti untuk istirahat. Hahaha.
Perjalanan kami mulai pukul 12.00 WIB dan menurut prediksi akan tiba pukul
18.00 karena di kelompok kami di dominasi oleh pemula. Dan saya pupuk bawang.
| selamat datang perjalanan penuh PENDERITAAN :") |
![]() |
| sang problem solver bersama team keyong |
Setelah
perjalanan paaaaaaanjaaaaaaaaaaaaaaaaaang yang super duper melelahkan, akhirnya
saya bisa melihat wujud sang pujaan hati, Ranu Kumbolo!!! Semakin semangat
untuk berjalan kaki melanjutkan perjalanan ini walo sumpah ya, capeeek
bangeeet. Ternyata walaupun Ranu Kumbolo sudah tampak di mata, ternyata dia
lebih dekat dengan hati. Karena itu masih jauuuh banget tempat camp nya. Masih
perlu 1 jam untuk benar-benar tiba disana. Team keyong dan sang problem solver
siap untuk melanjutkan perjalanan.
| camp Ranu Kumbolo nya masih super duper jauh ternyata |
Semakin
dekat dengan Ranu Kumbolo, jalanan semakin tidak bersahabat. Naik turunnya ga
punya sopan santun. Kalo jalanannya ini ketemu saya duluan, udah saya sekolahin
biar berakhlak mulia. Tanjakan dan turunan yang ekstrem membuat saya beradegan
India dengan Gattadah. Saat saya berkonsentrasi di jalan turunan, Gattadah
mengarahkan saya tanah mana yang harus saya pijak.
“Gets,
aku injak ini yaaa?!” sambil ragu
“Iya
mak! Yang yakin ya biar ga jatuh”
“aduh
kayanya ini licin deh Get”
“Engga
mak, coba dulu”
“oke”
Dan
entahlah apa yang saya pijak, saya hampir terjerembap dan dalam posisi freeze.
“get,
kayanya aku mau jatoh nih. Buruan tarik tasnya aku”
“iya
mak”
dengan cekatan Gattadah menarik tas saya. namun sayang malang tak dapat
ditolak, untung tak bisa diraih.
“aduh
maaak! Salah pegang”
Ternyata
yang ditarik oleh Gattadah adalah cover bag saya. saat cover bag saya ditarik
dan kemudian terlepas, jadilah saya gegulingan di tanah macem adegan India yang
gegulingan di rerumputan. Sadis.
| masak memasak dengan panci yang anak gunung sebut "nesting" |
| tim sapu sapu makanan dan minuman |
| adegan pijat urut setelah kaki sengklek keseleo disponsori oleh Bob |
Saya
kebagian satu tenda sama Neng Rosita, Bob, Gattadah, dan Samid. Kenapa dicampur
cewek cowok?! Menurut Ulin sih biar aman. Kalo ada apa-apa tinggal bangunin
aja. padahal mah ga ngefek. Si gattadah ama samid mah balapan ngorok. Malam ini
di tenda kami ditemani lagu-lagunya Tulus dari hpnya Neng Rosita. Ahh, kaki
saya yang keseleo sakit banget emaaaak. Mulai dateng nih ngilunya. Dan dengan
so sweetnya si Neng Rosita ngegosokin kaki saya sambil diusap-usap kaya bayi
sambil merem-merem. Hahaha
Alarm
adzan subuh dari hp mulai rame bersahutan dan saya terbangun. Ahh kebelet pipis
sama kebelet pup. Jangan harap ya disini ada toilet duduk plus semprotan
airnya, yang ada mah semak-semak sama tissue basah. Ini senjata andalan. Ama
kain sarung tuh buat nutupin kalo lagi beradegan. Haha. Apalah artinya hidup
kami tanpa adanya tissue basah dan Sarung. Hahaha. Dan matahari mulai menyinari
kami. Ranu Kumbolo mulai menggeliat kecantikannya. Kado Tuhan paling spesial.
| Ranu Kumbolo |
Saya
tidak habis habisnya berdecak kagum dengan kecantikan Ranu Kumbolo ini ya.
Subhanallah! Sambil menikmati pemandangan super duper cantik, kami semua
bergelut dengan alat dapur untuk mempersiapkan sarapan. Yeay! MAKAN!!
| bangun pagi dengan pemandangan super kece :") |
| mari mempersiapkan makanan |
Alat
dapur semalem yang di pake berpesta belum dicuci. Air untuk mencuci diambil
dari tepi danau. Jadilah kami wanita-wanita unyu ini mengambil air yang
ditampung di botol mineral. Tapi entah mengapa, sebagian besar dari kami pada
engga berani nyebur danau untuk ambil air. Bukan perkara ada buaya sih, tapi
karena memang duingin buanget. Akhirnya ada mas-mas yang melihat kita berdebat
dan dengan sukarela mas itu ngambilin kita air. Ini yang semakin menguatkan
pendapat saya bahwa “ORANG GUNUNG ITU MEMPESONA KARENA BAIKNYA”
| mas gunung yang baik hati, sempga Tuhan membalas segala kebaikanmu :) |
Memasak
dimulai! Yang paling jago masak si Ulin tuh. Masak beras menjadi nasi setengah
bertepung alias ga mateng. Hahahaha. Terus si Gattadah mengubah tempe menjadi
oseng-oseng tempe yang tampaknya menawan sekali rasanya dan ternyata .. hanya
indah dipandang, tidak terlalu sedap dimakan. Tapi lumayan enak sih kalo
makannya di gunung (peace Gattadah!). yang super amazing ituuuuuuuu Pak Pik,
temennya Ulin yang dari Malang. sumpah, bawaannya tuh anak gunung banget yang
sangat mengerti medan. Dia bawa segala makanan yang instan tapi berbobot
semacam spageti dengan saus pronas nya sekalian. Sedangkan bawaan kita ? sayur
sop-sopan, bumbu pecel, dan itu ga ada yang terolah. Bahahahahahahahaha. Saya
pengen ngakak deh kalo masalah bawaan logistik ini. soalnya yang paling banyak
usulin bahan logistik itu saya! hahahaha
| beberapa menu makanan yang sudah siap |
| adegan teflon kobong si Gattadah haha |
| para dokter gigi yang tetap membersihkan giginya dimanapun mereka berada |
| dhani si Jason Mraz KW 5 |
| Gattadah si Arab China sang problem solver |
| Ulin Mars (model video klip Bruno Mars) |
| gaya nya foto foto padahal iku pengen selfie ! haha |
Setelah
selesai masak-masaknya, kami makan dengan sangat bahagia seperti manusia yang
tidak diberi makan 10 hari. Haha. Perut kenyang dan hati tenang. Hari semakin
siang, dengan berat hati kami harus meninggalkan Ranu Kumbolo yang berlangit
indah ini. semua cerita semalam harus saya tinggalkan. Ini akan menjadi
pengalaman yang super awesome buat saya. ini sejarah! Saatnya memulai
perjalanan paaanjaaaaaaaaaaaaaang lagi menuju rumah #dengankakipincang #asem
#akuisomlakuopoora
| Packing packing |
| Pak Pik, Mas Wisnu dan Ulin si manusia Gunung |
| senam dulu sebelum packing |
| ranu kumbolo saat kabut :( |
Langkah
kaki saya membuat teman-teman terhambat. Akhirnya Gattadah mempersilahkan yang
ingin duluan untuk mendahului. Tinggalah saya, Gattadah, Bob dan Rosita di
kelompok saya dan Ulin, Pak Pik dan Mas Wisnu di belakang kami. ahh Gattadah,
anda mengagumkan. Tanpa support Gattadah selama perjalanan kayanya saya udah
nyerah dan minta gendong porter. Support si Ulin juga menggema di udara,
manggilin naman Pak Widji. Helloooo, itu bapak guweh. Hahaha. But thanks anyway
my friends :)
| pak pik yang udah saya siksa bawa carrier masih sempet mijitin kaki saya |
Akhirnya
setelah berjalan 5.5 jam, kami tiba juga di penjemputan. Alhamdulillah ya Rob!
Ini perjalanan luar binasa #luarbinasanggaraisengklek. Jangan berbahagia dulu,
perjalanan belum berakhir karena kami masih harus menempuh perjalanan menuju parkiran
motor dengan menumpangi Pick Up. Alhamdulillah saya dapat di bangku depan
bersama Rosita. Bisa tidur pulaaaassss. Alhamdulillah.
Sampe
parkiran motor kami masih harus menempuh perjalanan menuju Jember, DENGAN PERUT
LAPAR. Huhu. Sedihnyaaaaa. Kok ya Alhamdulillah nya lagi, kami di jamu makan di
rumah Wilda, pacarnya si Samid. Di daerah Lumajang rumahnya. Perjalanan menuju
rumah Wilda menyiksa sekali rasanya. Udah laper, ngantuk baanget juga dan harus
naik motor dengan carrier segede gaban di punggung. Sesampainya di rumah Wilda
(45 menit perjalanan) kami semua kalap menghabiskan makanan di rumah Wilda.
Nasi Goreng, Bakmi, Telor, Gurame, Es Buah, dan es krim coklat. Alhamdulillah
wa syukurillah. Tim sapu-sapu si Dhani dan Faiz. Parah, sampe nasi goreng sisa,
dimakan di bakulnya. Haha. Jam menunjukkan pukul 23.00 dan kami melanjutkan
perjalanan menuju Jember. Dengan perut kenyang, kehidupan jauh lebih tentram.
Haha.
Hey,
Ranu Kumbolo.
Terimakasih
untuk segala cerita yang kamu ukir di perjalanan kehidupanku.
Terimakasih
untuk memberiku kesempatan menyambangimu di ke-24 tahunku dengan orang-orang
yang luar biasa.
Terimakasih
untuk mengenalkan aku dengan orang orang pecinta gunung yang berkepribadian
super mengagumkan.
Terimakasih.
| teruntuk sahabat kami FADHILAH RIZAL NUGRAHA aka PAPI yang sedang dalam masa pengobatan :) |



No comments:
Post a Comment